Page 168 - Relasi Kuasa: Dalam Strategi Pertanahan di Desa Prigelan
P. 168
Relasi Kuasa dalam Strategi Pertanahan di Desa Prigelan 159
maka secara umum kondisi sosial dan ekonomi Desa Prigelan lebih
baik dari kondisi sosial dan ekonomi Kabupaten Purworejo dan
Provinsi Jawa Tengah. Angka kemiskinan di Kabupaten Purworejo
dan Provinsi Jawa Tengah telah memperlihatkan hal ini, sehingga
strategi pertanahan di Desa Prigelan dapat diakui sebagai kebijakan
lokal yang tepat.
Awalnya strategi pertanahan hanya berupa strategi penguasaan
tanah yang diterapkan oleh Suparmin (Kepala Desa Prigelan tahun
1946 – 1986) pada tahun 1947. Suparmin adalah kepala desa pertama
di Desa Prigelan yang menerapkan strategi penguasaan tanah,
karena kepala desa sebelumnya, yaitu Wongsodiharjo (Kepala Desa
Prigelan sebelum tahun 1946), tidak memiliki kesempatan membela
kepentingan masyarakat (termasuk petani) karena memerintah di
masa penjajahan (Belanda dan Jepang). Strategi penguasaan tanah
yang diterapkan oleh Suparmin ini kemudian dilanjutkan oleh kepala
desa berikutnya, yaitu: (1) Suparno (Kepala Desa Prigelan tahun 1986
– 2002), (2) Jumari (Kepala Desa Prigelan tahun 2002 – 2012), dan (3)
Maniso (Kepala Desa Prigelan tahun 2012 – 2017).
Strategi penguasaan tanah dapat bertahan bertahun-tahun
(sejak 1947 hingga sekarang) karena masyarakat Desa Prigelan
merasakan manfaat sosial ekonomi strategi ini. Hal inilah yang
semakin memperteguh Pemerintah Desa Prigelan dari generasi ke
generasi, untuk mempertahankan strategi penguasaan tanah yang
telah menjadi tradisi (adat) masyarakat Desa Prigelan. Agar strategi
penguasaan tanah dapat terus dipertahankan, Pemerintah Desa
Prigelan membina petani pemilik tanah sawah dan petani penerima
hak garap. Pemerintah Desa Prigelan membangun komunikasi yang
intens dengan mereka, karena merekalah yang menjadi elemen dasar
penerapan strategi penguasaan tanah.

