Page 329 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 329

308    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            ini mencerminkan fungsi checks and balances antara eksekutif dan
            legislatif dalam menjaga akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.

                Salah satu aspek penting dalam sistem tindak lanjut audit adalah
            penanganan kerugian negara atau daerah. Dalam realitas birokrasi,
            tidak jarang pemeriksaan menemukan adanya kekurangan kas, barang,
            atau aset yang  berdampak langsung pada  potensi  kerugian  fiskal.
            Untuk menegakkan akuntabilitas, mekanisme pertanggungjawaban
            bendahara maupun pejabat pengelola keuangan diatur secara tegas.
            Jika auditor menemukan selisih yang merugikan keuangan negara,
            bendahara atau pejabat terkait diwajibkan menyelesaikan penggantian
            kerugian sesuai tata cara yang ditetapkan. Apabila keberatan diajukan
            tetapi ditolak, keputusan pembebanan kerugian tetap diberlakukan
            dan wajib dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditetapkan.
                Penyelesaian kerugian ini tidak hanya berlaku bagi bendahara
            pemerintah semata, tetapi juga meluas pada pengelola perusahaan
            milik negara atau daerah, terutama bagi entitas yang sebagian besar
            sahamnya dimiliki oleh negara. Prinsipnya, siapa pun yang mengelola
            keuangan publik wajib  menanggung  konsekuensi jika lalai atau
            terbukti melakukan tindakan yang menimbulkan kerugian  negara.
            Pelaporan penyelesaian  penggantian kerugian menjadi tanggung
            jawab pimpinan instansi terkait untuk dilaporkan kepada pemeriksa,
            sehingga proses pengawasan tetap terhubung dalam satu sistem yang
            utuh dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

                Untuk menjamin  bahwa  setiap tahapan audit berjalan tanpa
            hambatan, aturan juga  memuat sanksi pidana bagi pihak-pihak
            yang dengan sengaja menghalangi jalannya pemeriksaan. Penolakan
            memberikan dokumen, menutupi informasi, atau menghalangi akses
            auditor terhadap data vital dipandang sebagai pelanggaran serius
            terhadap kewajiban hukum. Dalam praktiknya, hambatan semacam ini
            sering muncul dalam bentuk penundaan administratif, penghilangan
            bukti, atau bahkan upaya intimidasi terhadap auditor. Oleh karena
            itu, pengaturan pidana menjadi instrumen penegakan hukum agar
            setiap pejabat, pegawai, atau pihak terkait memahami konsekuensi
   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334