Page 186 - Kembali ke Agraria
P. 186
Kembali ke Agraria
sasi tani ini ibarat pelita di tengah kemuraman hidup petani Indonesia.
Kita telah mafhum bahwa hanya melalui organisasi yang kuat, solid,
dan memihak petanilah, maka harapan petani untuk meningkatkan
martabatnya sebagai manusia utuh maupun penghasil makanan bagi
umat manusia jadi lebih mungkin untuk tercapai. Bak sapu lidi, dengan
persatuan yang diikat kuat, kita akan lebih ampuh menyingkirkan
sampah ketimbang hanya lidi sebatang yang pastilah rentan patah.
Globalisasi
Ketika mengingat tragedi 17 April di Brasil, kehidupan petani
dan sektor pertanian sekarang sedang menghadapi tantangan yang
tidak semata di tingkat lokal dan nasional, namun tantangan yang
terbesar dan terberat mengepung dari tingkat global. Sektor pertanian
negara berkembang kini dikangkangi kebijakan ekonomi-politik
nasional yang diikatkan erat secara global. Bonnie Setiawan dalam
Globalisasi Pertanian menandaskan bahwa pertanian sesungguhnya
adalah fondasi dan hidup-matinya sebuah negara. Namun, celaka-
nya, kita sudah masuk ke dalam tahap perkembangan dunia terbaru,
yaitu globalisasi pertanian, di mana AoA (Agreement on Agriculture)
sebagai bagian dari WTO (World Trade Organization) sejak 1 Januari
1995 akan mengatur semua subyek pertanian kita. AoA juga akan
mengatur bagaimana sektor pertanian diurus negara (2003, hal. 4).
Berdasar pengalaman, liberalisasi pertanian menghasilkan kecen-
derungan negatif bagi petani dan pertanian kita. Beberapa dampak
yang sudah mulai dirasakan, pertama, liberalisasi itu menempatkan
petani sebagai obyek yang disetir oleh kepentingan modal yang
ditanamkan di sektor pertanian. Kedua, tidak adanya proteksi yang
substansial bagi petani agar dapat tetap aman dalam kegiatan perta-
nian. Ketiga, dihapuskannya subsidi bagi sektor pertanian yang menye-
babkan melemahnya dukungan negara bagi petani. Keempat, memban-
jirnya produk pertanian impor yang menggerus daya saing produk
petani kita. Kelima, menjadikan sektor pertanian menjadi urusan elite
ekonomi sembari mempercepat urbanisasi dan proletarisasi.
167

