Page 189 - Kembali ke Agraria
P. 189

Sinar Harapan, 11 Mei 2005








               Heboh Perpres Penunjang Penggusuran








                   ENGETAHUI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 3 Mei
            Mlalu, meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun
            2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan
            untuk Kepentingan Umum, hati penulis tergetar. Pikiran kusam meng-
            gelayuti isi kepala, membayangkan akan kian memburuknya kondisi
            agraria di Tanah Air tercinta. Betapa tidak, demi “pembangunan”
            dan “kepentingan umum”, Perpres ini memberi kewenangan kepada
            Presiden untuk mencabut hak rakyat atas tanah.
                Tak berlebihan jika dikatakan Perpres ini sejatinya sarana penun-
            jang penggusuran. Padahal kita rindu berhentinya penggusuran
            terhadap rakyat, berdalih pembangunan kepentingan umum seka-
            lipun. Perpres ini tak pelak bikin heboh karena berpotensi mengu-
            kuhkan cakar kapitalisme yang jadi biang krisis agraria, juga poten-
            sial membangkitkan otoritarianisme di lapangan agraria akibat makin
            ringan tangannya penguasa menggusur tanah untuk pembangunan.
            Makin banyak dan kerasnya penggusuran tanah rakyat menjadi sesu-
            atu yang sangat mungkin terjadi jika Perpres ini dijalankan.
                Latar belakang dan motif di balik Perpres ini sudah banyak dibe-
            ritakan dan dianalisis media massa. Liputan dan tajuk rencana koran
            ini jadi contoh baik (lihat Sinar Harapan, 9/5/05). Perpres yang berisi
            24 pasal ini tidak secara gamblang memastikan keharusan tiap proyek
            pembangunan melindungi dan menghormati hak rakyat atas tanah.
            Perpres ini hanya merinci 21 jenis proyek berkategori pembangunan

                                         170
   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194