Page 143 - Pembentukan Kebijakan Reforma Agraria, 2006-2007 Bunga Rampai Perdebatan
P. 143
M. Shohibuddin & M. Nazir S (Penyunting)
juga terjadi terus-menerus dengan masuknya pasar yang
mengalahkan produksi pedesaan—yang hampir seluruhnya
dihuni kulit hitam. Terjadilah perubahan bentuk tenaga
kerja seperti diterangkan sebelumnya, dan kaum tani kecil
kehilangan tanah sebagai sumber agraria utama mereka.
Selanjutnya menurut Lebert, potensi peningkatan untuk
perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke
nonpertanian pun meningkat. Jadilah kulit hitam buruh,
bahkan menganggur. Apalagi, sistem perburuhan memang
sengaja diikat oleh politik diskriminasi ras secara rep-
resif.
Akibat dari proses transformasi agraria ini adalah kehan-
curan orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan. Kemiskinan
yang dihasilkan terstruktur dalam hubungan ekonomi dan
sosial di daerah-daerah. Orang-orang asli Afrika hanya
menguasai 14 persen total tanah, sementara 86 persen sisa-
nya dikuasai kulit putih. Pada awal era 90-an, ketimpangan
digambarkan dengan 12 juta keluarga petani menguasai 17
juta hektar lahan. Sementara, hanya 60 ribu orang menguasai
lebih dari 86 juta hektar. Kepemilikan lahan rata-rata di
Afrika Selatan hanya 0.2 hektar per orang. Tak heran angka
kemiskinan mencapai 74 persen dari total jumlah penduduk.
Bebasnya Afrika Selatan dari politik apartheid tahun
1994 belum bisa menyejahterakan penduduknya yang
mayoritas petani kala itu (walaupun mulai beralih menjadi
buruh pertambangan dan industri di akhir era 90-an). Partai
ANC (Kongres Nasional Afrika) yang berkuasa malah
mengadopsi strategi pembaruan yang berorientasi pasar
dalam konteks hak milik yang dilindungi secara konstitu-
sional.
96

