Page 54 - SD_Danau Laut Tador
P. 54

“Ayah!  Tador  …  Tador  …,  Ayah  Tador  mana?”
            teriak ibu. Suaranya tidak terdengar karena pada saat

            yang bersamaan, semua orang juga berteriak.
                 Ayah  sudah  turun  dari  pohon.  “Ayah!  Tador  …

            Tador …, Ayah Tador mana?” teriak ibu, kali ini tepat
            di muka Ayah.

                 Ayah tidak menjawab. Mukanya tegang. Sementara
            itu, muka ibu sudah basah dengan air mata. Keduanya

            saling bertatap. Keduanya saling meratap. Terbayang
            oleh  keduanya  kondisi  Tador  saat  ditinggalkan.

            Terbayang  oleh  mereka  jeritan  Tador  ingin  ikut.
            Terbayang  oleh  mereka anak  yang  selama  ini  mereka

            tinggalkan. Terbayang oleh mereka anak satu-satunya
            itu, anak yang selalu sendirian itu. “Tador! Tador! Di

            mana kau, Nak!” jerit ibu berulang kali.
                 Ayah  tetap  diam.  Mulutnya  seperti  terkunci.

            Secepat kilat dia pun berlari.  Mencoba masuk ke dalam
            air yang telah  menggenangi  kampung. Pun, penduduk

            yang lain berlari-lari, sibuk mencari sumber air penyebab
            tenggelamnya kampung mereka.

                 Di rumah, Tador sudah tidak tampak lagi. Semua
            air. Entah di mana kini tubuh Tador. Namun, yang pasti,

            air mata kesedihan Tadorlah yang menyebabkan air itu.



                                        46
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59