Page 52 - SD_Danau Laut Tador
P. 52

Selang setengah jam, dalam suasana ceria, mereka
            tiba di kampung mereka. Namun, keceriaan itu mendadak

            sirna.  Wajah  mereka  tampak  bingung  ketika  sampai
            pintu gerbang kampung. Mata mereka memandang tidak

            percaya ke arah kawasan yang berada di daerah lebih
            rendah  itu.  Kawasan  yang  tidak  lain  adalah  kampung

            mereka itu telah berubah. Tidak ada lagi jalan kampung.
            Tidak ada lagi parit. Tidak ada lagi hewan ternak. Tidak

            ada lagi pohon bunga di pekarangan. Kampung mereka
            terlihat  penuh  air.  Rumah-rumah  mereka  tenggelam,

            hanya sebagian atapnya saja yang kelihatan.
                 Semuanya  panik.  Bingung mengemuka.  Mengapa

            kampung  mereka  menjadi  air?  Apa gerangan  yang
            membuat kampung ini tenggelam dengan air, padahal

            tidak ada hujan apalagi badai?
                 Para penduduk kampung semakin panik. Sebagian

            orang  berlari  ke  sana  kemari.  Anak-anak  menangis
            dan  menjerit.  Di  antara  kepanikan  penduduk  itu,

            tampak ayah dan ibu Tador. Wajah mereka memucat.
            Secepat  kesadaran  mereka  melihat  kampung  berubah

            air, secepat itu juga mereka sadar. Anak mereka satu-
            satunya, Tador, berada di rumah. Ya, Tador terbaring






                                        44
   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56   57