Page 150 - Buku SKI XI MA
P. 150

Konggres  Sarekat  Islam  yang  Pertama  di  Surabaya  pada  tanggal  10

                        November 1912. Namun setahun sebelumnya Sarekat  Dagang  Islam  SDI berganti
                        nama  menjadi  Sarekat  Islam,  pergantian  nama  juga  merubah  ruang  pergerakan

                        Sarekat  Islam  dalam  arti  luas,  mencakup  berbagai  aspek  sosial,  politik,  ekonomi,
                        pendidikan dan keagamaan. Pergantian nama di tubuh Sarekat Islam di bahas dalam

                        Kongres Sarekat Islam yang pertama di Surabaya pada tanggal 20 Januari 1913.
                    3.  Persatuan Umat Islam (1911 M)

                               Persatuan  Umat  Islam  (PUI)  didirikan  oleh  KH.  Abdul  Halim,  yang

                        merupakan seorang ulama pengasuh di Pondok Pesantren Majalengka, Jawa Barat
                        pada tahun 1911. PUI adalah gabungan dari dua organisasi Islam yang ada di Jawa

                        Barat  yaitu  Persyarikatan  Umat  Islam  dan  organisasi  Al-Ittihad  Al-Islamiyah

                        pimpinan  KH.  Ahmad  Sanusi  di  Sukabumi.  PUI  kemudian  mendirikan  banyak
                        sekolah serta pondok pesantren di Jawa Barat.

                    4.  Muhammadiyah (1912 M)
                               Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Kampung

                        Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912
                               Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas

                        dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji

                        Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan
                        ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai

                        Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu
                        diperoleh  Kyai  Dahlan  setelah  berguru  kepada  ulama-ulama  Indonesia  yang

                        bermukim  di  Mekkah  seperti  Syeikh  Ahmad  Khatib  dari  Minangkabau,  Kyai
                        Nawawi  dari  Banten,  Kyai  Mas  Abdullah  dari  Surabaya,  dan  Kyai  Fakih  dari

                        Maskumambang;  juga  setelah  membaca  pemikiran-pemikiran  para  pembaru  Islam

                        seperti  Ibn  Taimiyah,  Muhammad  bin  Abdil  Wahhab,  Jamaluddin  Al-Afghani,
                        Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.

                               Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Saudi

                        Arabia  dan  bacaan  atas  karya-karya  para  pembaru  pemikiran  Islam  itu  telah
                        menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya

                        dari Arab Saudi, KH. Ahmad Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan,
                        bukan malah menjadi konservatif.

                               Embrio  kelahiran  Muhammadiyah  sebagai  sebuah  organisasi  untuk
                        mengaktualisasikan  gagasan-gagasannya  merupakan  hasil  interaksi  Kyai  Dahlan






               136 SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS XI
   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155