Page 2 - WARTA 03 MEI 2026
P. 2

RENUNGAN



                        KISAH PARA RASUL 7 : 59-60


        Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus,
             terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring,
                  “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”
                       sesudah berkata demikian, ia pun meninggal.


        Merawat Keberanian untuk Tetap Benar

    Keberanian  sering  kita  bayangkan      terlihat  benar,  tetapi  oleh  hati  yang
    sebagai sikap yang lantang, tegas, dan   tertuju kepada Tuhan. Karena matanya
    tidak  takut  menghadapi  siapa  pun.    memandang  Kristus,  Stefanus  tidak
    Namun  Kisah  Para  Rasul  7:54–60       kehilangan  kasih,  sekalipun  tubuhnya
    memperlihatkan  keberanian  dalam        dilukai.   Ia   tetap   benar    tanpa
    bentuk    yang   berbeda.    Stefanus    mengalami  kepahitan;  ia  tetap  berani
    sedang  berada  dalam  tekanan  besar:   tanpa menjadi keras.
    ia  ditolak,  dimarahi,  bahkan  dilempari
    batu.  Tetapi  di  tengah  kekerasan  itu,  Di  dalam  hidup  sehari-hari,  kita  pun
    hatinya  tidak  dikuasai  ketakutan  atau  sering  menghadapi  tekanan  untuk
    kebencian.  Ia  menengadah  kepada       mengikuti  arus:  diam  ketika  melihat
    Tuhan,  melihat  kemuliaan  Allah,  dan  ketidakjujuran, ikut menyebarkan kata-
    tetap  berdiri  dalam  kebenaran.  Dari  kata yang melukai, membalas sindiran
    Stefanus     kita   belajar    bahwa     dengan  sindiran,  atau  memilih  aman
    keberanian  Kristen  bukan  terutama     daripada  benar.  Firman  hari  ini
    soal  menang  dalam  perdebatan,         mengajak  kita  merawat  keberanian
    melainkan  tetap  setia  kepada  Kristus  untuk  tetap  benar:  berani  jujur  di
    ketika  kebenaran  membuat  kita  tidak  pekerjaan,  berani  menjaga  kata-kata
    nyaman, tidak populer, ditolak, bahkan   dalam keluarga, berani menolak fitnah
    mengancam nyawa.                         dalam     pergaulan,    dan     berani
                                             mengampuni  agar  hati  tidak  dipenuhi
    Stefanus  tidak  menjadikan  kebenaran   dendam.  Kiranya  hidup  yang  telah
    sebagai senjata untuk menghancurkan      dibangkitkan  oleh  Tuhan  tidak  kita
    orang lain. Ia tidak membalas amarah     pakai untuk melukai, melainkan untuk
    dengan         amarah.         Dalam     bersaksi. Ketika keberanian kita mulai
    penderitaannya, ia justru menyerahkan    lemah, arahkanlah hati kepada Kristus,
    hidupnya  kepada  Tuhan,  bahkan  ia     sebab  dari  Dialah  kita  menerima
    berdoa    bagi    orang-orang    yang    kekuatan  untuk  tetap  benar  dengan
    melukainya.  Inilah  keberanian  yang    kasih.
    lahir  dari  iman  kepada  Kristus.
                                                                                 T
                                                                                  S
                                                                                 TS
    Keberanian  yang  tidak  dibentuk  oleh                                      TS
    gengsi,  emosi,  atau  keinginan  untuk
   1   2   3   4   5   6   7