Page 54 - BUKU GABUNGAN revisi 17.11.24_Neat
P. 54
Fisika Modern Terintegrasi Etnosains
oleh kondisi alam seperti posisi bintang tertentu atau fase bulan. Pendekatan
ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis memahami waktu sebagai sesuatu
yang relatif, yang ditentukan oleh konteks alam dan kebutuhan sosial, bukan
oleh standar waktu yang kaku.
Dalam perspektif fisika modern, konsep relativitas waktu yang
diperkenalkan oleh Einstein menyatakan bahwa waktu tidak bersifat absolut dan
dapat bervariasi tergantung pada kerangka referensi pengamat. Hal ini sejalan
dengan cara masyarakat Bugis mengatur waktu mereka. Mereka melihat waktu
bukan sebagai sesuatu yang linier dan tetap, tetapi sebagai fenomena yang
dapat berubah sesuai dengan kondisi alam dan keperluan sosial.
Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bugis sering
menggunakan istilah seperti “wettu lolo” (waktu pagi), “wettu tengah” (waktu
siang), dan “wettu malam” (waktu malam) yang tidak merujuk pada jam tertentu,
tetapi pada kondisi cahaya dan aktivitas alam. Ini mencerminkan pemahaman
bahwa waktu lebih bersifat subyektif dan bergantung pada pengamatan individu
dan kebutuhan komunitas.
Dengan demikian, pemahaman waktu dalam masyarakat Bugis dapat
dilihat sebagai refleksi dari prinsip-prinsip relativitas waktu. Melalui praktik
etnosains ini, mereka menunjukkan bahwa waktu dapat dilihat sebagai entitas
yang fleksibel dan dinamis, yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor alam dan
sosial, serta memiliki makna simbolis yang mendalam dalam konteks budaya.
2.3 Penutup
2.3.1 Rangkuman
Teori relativitas yang dikembangkan oleh Albert Einstein lahir dari
kebutuhan untuk menyelaraskan hukum-hukum fisika dengan
elektromagnetisme. Pada akhir abad ke-19, fisikawan menemukan
ketidakcocokan antara mekanika Newton dan teori elektromagnetisme James
48