Page 13 - KLIPINGBPPT0782019PAGI
P. 13

di situ, kendaraan bertenanga listrik ini harus bisa diproduksi di dalam negeri sehingga beban impor BBM tidak berpindah menjadi beban impor kendaraan utuh. Soal ini sebenarnya bukanlah barang baru. Sudah banyak prototipe kendaraan bertenaga listrik yang berhasil dibuat anak bangsa. Sebut saja, Tucuxi ( mobil listrik sport) pada 2012, Gendhis (mobil listrik MPV) pada 2013, Selo (super car listrik) tahun 2013, Evina (city car listrik) tahun 2013, dan Hevana (mobil listrik berjenis sedan) pada 2013. Mobil sport listrik Tucuxi ditunjukkan kepada masyarakat di halaman Stadion Gelora Bung Karno Jakarta Pusat, Minggu (23/12/2012). Mobil sport ini memiliki kecepatan maksimum 193 km/jam dan jarak jelajah 200 mil atau 321,8 km untuk sekali charge seharga Rp 1,5 miliar. TRIBUNNEWS/HERUDIN(HERUDIN) Bukan hanya mobil, putra-putri Indonesia telah mampu mengembangkan bus listrik. Contoh Bus Molina yang dibuat Universitas Indonesia bersama Perum Damri dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia. Bus ini sudah diperkenalkan ke publik pada pertengahan tahun 2018. Terbaru adalah Bus MD255-XE2 buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB). Bus listirk ini bahkan telah resmi dijual dan sudah laku 2 unit. Namun lagi-lagi, semua itu belum bisa diproduksi massal karena menghadapi banyak kendala. Dilansir Kompas.com, Selasa (12/6/2019), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendapati 7 kendala penerapan kendaraan bertenaga listrik. “Mulai dari keterbatasan fasilitas pengisian daya, belum adanya regulasi harga energi listrik, lamanya pengisian daya dengan charger biasa, dan tidak adanya suara dari kendaraan yang berpotensi membahayakan pengendara lain,” kata Deputi BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) Eniya Listiani Dewi. Baca juga: BPPT Menilai Kendaraan Listrik Masih Punya Kendala Tantangan selanjutnya, lanjut Eniya, adalah masa periodik penggunaan baterai, ketidakcocokan kota yang minim daya listrik, belum ada ketetapan regulasi insentif, serta tidak adanya subsidi bagi pengguna yang membuat harga kendaraan bertenaga listrik mahal. Belum kompetitifnya harga kendaraan bertenaga listrik akibat dari penggunaan teknologi canggih yang mahal. Adapun salah satu komponen yang membuat harga kendaraan ini melambung tinggi, yakni baterai. Terkait baterai, Indonesia sendiri berpotensi bisa memproduksi komponen ini di dalam negeri. Hal ini dibenarkan Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Chaikal Nuryakin. “Saat ini Indonesia memiliki sumber bahan baku alias raw material baterai. Sementara itu, teknologi pembuatan baterai masih harus diambil dari luar,” kata dia kepada Kompas.com, Kamis (11/7/2019). Untuk itu, Indonesia bisa mengundang investor dari luar buat mengembangkan dan memproduksi baterai buat kendaraan bertenaga listrik.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Solusi Indonesia Menuju Kemandirian Energi", https://nasional.kompas.com/read/2019/08/07/08070001/solusi- indonesia-menuju-kemandirian-energi.
Penulis : Mikhael Gewati
Editor : Kurniasih Budi


































































































   9   10   11   12   13