Page 109 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 109

Beberapa  peraturannya  merupakan upaya    mewujudkan stabilitas  ekonomi
                 nasional  dengan menarik modal    luar negeri  serta  merasionalkan ongkos
                 produksi dan menghentikan subsidi.
                     Peraturan pelaksanaan Dekon tidak terlepas  dari  campur tangan politik
                 yang memberi tafsir sendiri terhadap Dekon. PKI termasuk partai yang menolak
                 melaksanakan Dekon, padahal Aidit terlibat di dalam penyusunannya, selama
                 yang melaksanakannya bukan orang PKI. Empat belas peraturan pemerintah
                 yang sudah ditetapkan dihantam   habis-habisan oleh PKI. Djuanda   dituduh
                 PKI telah menyerah kepada    kaum  imperialis. Presiden Soekarno akhirnya
                 menunda pelaksanaan  peraturan pemerintah tersebut pada bulan September
                 1963 dengan alasan sedang berkonsentrasi pada konfrontasi dengan Malaysia.
                     Kondisi  ekonomi  semakin memburuk karena     anggaran belanja  negara
                 setiap tahunnya terus meningkat tanpa diimbangi dengan pendapatan negara
                 yang memadai. Salah satu penyebab membengkaknya anggaran belanja tersebut
                 adalah pembangunan proyek-proyek     mercusuar, yang lebih bersifat  politis
                 dari  pada  ekonomi, misalnya  pembangunan Monumen Nasional      (Monas),
                 pertokoan Sarinah, dan kompleks olahraga  Senayan yang dipersiapkan untuk
                 Asian Games IV dan Games Of the New Emerging Forces (Ganefo).

                     Kondisi  perekonomian yang sangat     merosot  mendorong pemerintah
                 berusaha mendapatkan devisa kredit (kredit impor) jangka panjang yang harus
                 dibayar kembali  setelah satu atau dua  tahun.  Menteri  Bank Sentral  Yusuf
                 Muda Dalam memanfaatkan devisa kredit ini  sebagai deferedpayment khusus
                 untuk menghimpun  dan menggunakan dana revolusi dengan cara melakukan
                 pungutan terhadap perusahaan  atau perseorangan yang memperoleh fasilitas
                 kredit antara Rp250 juta sampai Rp 1 milyar. Perusahaan atau perseorangan
                 itu harus membayar dengan valuta asing dalam jumlah yang sudah ditetapkan.
                 Walaupun cadangan devisa       menipis, Presiden Soekarno tetap pada
                 pendiriannya  untuk menghimpun dana    revolusi, karena  dana  ini  digunakan
                 untuk membiayai proyek-proyek yang bersifat prestise politik atau mercusuar,
                 dengan mengorbankan ekonomi dalam negeri.

                     Dampak dari    kebijakan tersebut   ekonomi   semakin semrawut     dan
                 kenaikan barang mencapai 200-300% pada tahun 1965 sehingga pemerintah
                 mengeluarkan kebijakan  bahwa pecahan mata uang Rp1.000,00 (uang lama)
                 diganti dengan Rp1,00 (uang baru).  Tindakan penggantian uang lama dengan
                 uang baru diikuti  dengan pengumuman kenaikan harga     bahan bakar yang
                 mengakibatkan reaksi   penolakan masyarakat. Hal    inilah yang kemudian
                 menyebabkan mahasiswa  dan masyarakat turun ke jalan menyuarakan aksi-
                 aksi Tri Tuntutan Rakyat (Tritura).





                                                                        Sejarah Indonesia
                                                                                            101
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114