Page 29 - Kelas_12_SMA_Sejarah_Indonesia_Semester_1_Siswa_2016
P. 29

komunis   yang pro-RRC (Republik Rakyat       Cina  yang komunis) di
                     Indonesia (Southwood dan Flanagan, 2013). Usulan ini akhirnya memang
                     gagal direalisasikan.
                     PKI lalu meniupkan isu tentang adanya Dewan Jenderal di tubuh AD yang
                     tengah mempersiapkan suatu kudeta. Di sini, PKI menyodorkan “Dokumen
                     Gilchrist”  yang ditandatangani  Duta  Besar Inggris  di  Indonesia. Isi
                     dokumen ditafsirkan sebagai isyarat adanya operasi dari pihak Inggris-AS
                     dengan melibatkan our local army friend (kawan-kawan kita dari tentara
                     setempat) untuk melakukan kudeta. Meski    kebenaran isi  dokumen ini
                     diragukan dan Jenderal Ahmad Yani kemudian menyanggah keberadaan
                     Dewan Jenderal ini saat Presiden Soekarno bertanya kepadanya, namun
                     pertentangan PKI dengan Angkatan Darat kini tampaknya telah mencapai
                     level  yang akut. Pada  bulan Mei  1965, Pelda. Sujono yang berusaha
                     menghentikan penyerobotan tanah perkebunan tewas dibunuh sekelompok
                     orang dari BTI dalam peristiwa Bandar Betsy di Sumatera Utara. Jenderal
                     Yani segera menuntut agar mereka yang terlibat dalam peristiwa Bandar
                     Betsy diadili. Sikap tegasnya didukung penuh oleh organisasi-organisasi
                     Islam, Protestan, dan Katolik.

                     Sementara itu di Mantingan, PKI berusaha mengambil paksa tanah wakaf
                     Pondok Modern Gontor seluas 160 hektar (Ambarwulan dan Kasdi dalam
                     Tauik Abdullah, ed., 2012: 139). Sebuah tindakan yang tentu saja semakin
                     membuat marah kalangan Islam. Apalagi empat bulan sebelumnya telah
                     terjadi  peristiwa  Kanigoro Kediri, dimana  BTI telah membuat   kacau
                     peserta  mental  Training Pelajar Islam  Indonesia  dan memasuki  tempat
                     ibadah saat  subuh tanpa  melepas  alas  kaki  yang penuh lumpur lalu
                     melecehkan Al Quran.

                     Suasana pertentangan antara PKI dengan AD dan golongan lain non PKI
                     pun telah sedemikian panasnya  menjelang tanggal  30 September 1965.
                     Apalagi  pada bulan Juli sebelumnya Soekarno tiba-tiba jatuh sakit. Tim
                     dokter Cina  yang didatangkan DN    Aidit  untuk memeriksa   Soekarno
                     menyimpulkan bahwa presiden RI tersebut kemungkinan akan meninggal
                     atau lumpuh. Maka dalam rapat Politbiro PKI tanggal 28 September 1965,
                     pimpinan PKI pun memutuskan untuk bergerak.
                     Dipimpin Letnan Kolonel    Untung, perwira   yang dekat  dengan PKI,
                     pasukan pemberontak melaksanakan “Gerakan 30 September”        dengan
                     menculik dan membunuh para jenderal dan perwira di pagi buta tanggal 1
                     Oktober 1965. Jenazah para korban lalu dimasukkan ke dalam sumur tua
                     di daerah Lubang Buaya Jakarta. Mereka adalah : Letnan Jenderal Ahmad
                     Yani (Menteri/Panglima AD), Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal




                                                                        Sejarah Indonesia         21
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34