Page 343 - EBOOK_Persiapan Generasi Muda Pertanian Pedesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia
P. 343
SEMINAR NASIONAL 2017
Malang 10 April 2017
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI RUMAH
TANGGA PETANI DI KECAMATAN JAMBU KABUPATEN SEMARANG
1
2
Chika Mayanggita , Dr. Ir. Titik Ekowati, M.Sc , Dr. Ir. Mukson, M.S. 3
1 Program Studi Agribisnis Universitas Diponegoro Semarang
Korespondensi Penulis: Chika Mayanggita, mayanggitachika@gmail.com
Abstrak
Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengeluaran konsumsi rumah tangga dan mengkaji faktor-
faktor yang mempengaruhi konsumsi rumah tangga petani di Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2016 di Desa Bedono dan Desa Genting Kecamatan
Jambu Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei
dengan teknik wawancara menggunkan kuisioner. Metode penentuan lokasi dikakukan secara
purposive sedangkan untuk pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling
dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Data dianalisis menggunakan analisis one sample t
test untuk membandingkan jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga petani perbulan dengan
indeks kemiskinan Kabupaten Semarang dan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi rumah tangga petani. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga petani dalam satu bulan adalah Rp
1.087.121,00 dengan persentase konsumsi pangan sebesar 60,17% dan non pangan sebesar 39,83%.
Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani tergolong rendah karena jumlah pengeluaran konsumsi
rumah tangga petani lebih rendah dibandingkan dengan indeks garis kemiskinan Kabupaten Semarang.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi rumah tangga petani yaitu pendapatan rumah
tangga, jumlah anggota keluarga, presepsi harga barang dan variabel dummy konsumsi pangan dan
non pangan sedangkan tingkat pendidikan kepala keluarga tidak berpengaruh terhadap konsumsi
rumah tangga.
Kata kunci : Konsumsi, Non Pangan, Pangan, Pendapatan, Rumah Tangga Petani
1. Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu maupun masyarakat berusaha untuk
memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Baik individu maupun masyarakat memiliki
kebutuhan yang berbeda dengan intensitas yang berbeda. Kesejahteraan masyarakat
dikatakan meningkat jika pemenuhan akan kebutuhan masyarakat tersebut juga meningkat.
Keberhasilan dalam pembangunan telah berhasil meningkatkan tingkat pendapatan rumah
tangga dan memperbaiki kesejahteraan tangga. Hal tersebut dapat dilihat dari persentase rata-
rata konsumsi rumah tangga di Kabupaten Semarang. Pada Tahun 2012 persentase konsumsi
pangan sebesar 44,26% sedangkan persentase konsumsi non pangan sebesar 55,73%
kemudian pada Tahun 2013 persentase konsumsi pangan sebesar 49,60% sedangkan
persentase konsumsi non pangan sebesar 50, 40%. (BPS Kabupaten Semarang, 2014).
Namun pembangunan pada sektor pertanian di Kabupaten Semarang masih belum
merata sehingga timbulnya ketimpangan di kalangan rumah tangga yang menyebakan
banyaknya rumah tangga yang berada di bawah garis kemiskinan. Persentase jumlah
penduduk miskin di Kabupaten Semarang sebesar 8% atau sebanyak 81.250 ribu jiwa. Rumah
tangga dapat dikatakan miskin jika pengeluaran konsumsi per bulannya dibawah rata-rata
pengeluaran konsumsi perkapita perbulan penduduk Kabupaten Semarang yaitu sebesar Rp
286.918,00 (Badan Pusat Statistik, 2014). Kecamatan Jambu merupakan salah satu kecamatan
“Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia” 332

