Page 27 - Sesi 5.indd
P. 27
2. Pengobatan Infeksi Virus
Pengobatan terhadap infeksi virus dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemberian
interferon dan kemoterapi antivirus.
a. Interferon
Interferon adalah protein yang dihasilkan oleh hewan atau sel biakan sebagai respons
terhadap infeksi virus atau penginduksi lain. Interferon juga berfungsi menghambat
replikasi virus dalam suatu sel. Interferon diduga merupakan kelompok hormon
sitokin yang berperan mengatur pertumbuhan dan perkembangan sel. Interferon
memiliki kemampuan untuk mengatur imunitas humoral, imunitas seluler, serta
pertumbuhan sel sehingga dapat digunakan untuk pertahanan pertama terhadap
infeksi virus. Terdapat tiga macam interferon, yaitu interferon alfa (α), beta (β), dan
gamma (γ). Interferon-α dan interferon-β telah digunakan untuk penyembuhan
berbagai infeksi virus, seperti hepatitis B dan C. Sementara itu, interferon-γ
yang berperan dalam aktivasi makrofag digunakan dalam penyembuhan kusta
lepromatosa, toksoplasmosis, dan leishmaniasis.
Meskipun mampu menyembuhkan tubuh dari berbagai penyakit, namun
penggunaan interferon masih memiliki beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut.
1.) Menimbulkan efek samping berupa demam, nyeri otot, malaise, dan sakit
kepala.
2.) Penggunaan interferon dalam jangka waktu yang panjang akan menyebabkan
turunnya kemampuan organ penglihatan serta dapat menyebabkan kerontokan
rambut.
3.) Masa terapi interferon sangat lama, bahkan mencapai lebih dari satu tahun.
Ini akan menyusahkan pasien karena interferon biasanya dikonsumsi melalui
infus.
b. Kemoterapi antivirus
Beberapa senyawa antivirus saat ini sudah mulai digunakan meskipun penggunaannya
hanya dalam keadaan tertentu. Hal ini disebabkan senyawa-senyawa tersebut dapat
menjadi racun bagi sel tubuh. Senyawa antivirus yang banyak digunakan sekarang ini
analog dengan nukleosida, yaitu zidovudin, trifluridin, asiklovir, sitabarin, amantadin,
arildon, enviroksim, dan fosfonoasetat.
27