Page 48 - Pedoman Keprotokolan
P. 48

internasional, DPR perlu menyusun suatu pedoman penerimaan tamu sesuai

                       dengan tata krama internasional dan prinsip-prinsip resiprositas yang selama
                       ini  berlaku.  Sampai  saat  ini  belum  ada  aturan  tertulis  yang  dapat  menjadi

                       pedoman  penerimaan  tamu  luar  negeri  DPR,  sehingga  perlu  disusun
                       Pedoman Penerimaan Tamu Luar Negeri DPR.


                   B.  Dasar Hukum



                       1.  Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
                       2.  Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri:

                          Pasal 5 menjelaskan bahwa DPR-RI dapat menyelenggarakan hubungan

                          luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri;
                       3.  Undang-Undang  Nomor  27  Tahun  2009  tentang  MPR,  DPR,  DPD,  dan

                          DPRD:  Pasal  120  ayat  (1)  huruf  a  menjelaskan  bahwa  DPR-RI  melalui
                          Badan  Kerja  Sama  Antar-Parlemen  (BKSAP)  memiliki  tugas  untuk

                          membina,  mengembangkan,  dan  meningkatkan  hubungan  persahabatan
                          dan  kerja  sama  antara  DPR  dan  parlemen  negara  lain,  baik  secara

                          bilateral  maupun  multilateral,  termasuk  organisasi  internasional  yang

                          menghimpun parlemen dan/atau anggota parlemen negara lain;
                       4.  Undang-Undang  Nomor  9  Tahun  2010  tentang  Keprotokolan:  Pasal  32

                          menjelaskan  bahwa  Tamu  Negara,  tamu  pemerintah,  dan/atau  tamu
                          lembaga  negara  lain  yang  berkunjung  ke  Negara  Indonesia  mendapat

                          pengaturan  keprotokolan  sebagai  penghormatan  kepada  negaranya
                          sesuai dengan asas timbal balik, norma-norma, dan/atau kebiasaan dalam

                          tata pergaulan internasional;

                       5.  Undang-Undang  Nomor  24  Tahun  2009  tentang  Bendera,  Bahasa,  dan
                          Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan: Pasal 28 dan Pasal 32 ayat

                          (1) menjelaskan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato

                          resmi  Presiden,  Wakil  Presiden,  dan  pejabat  negara  yang  lain  yang
                          disampaikan  di  dalam  atau  di  luar  negeri.  Bahasa  Indonesia  wajib

                          digunakan  dalam  forum  yang  bersifat  nasional  atau  forum  yang  bersifat
                          Internasional di Indonesia;




                                                                                                         3
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53