Page 29 - FIQIH SOSIAL
P. 29

29

                                            ي ي ْ
                        َّ
            ي
     َ
                                                          ي
                                َ
   َلَاَءاس نلاَجرَخَُليللاَن َ كََاذاَفَ،ةقييَضَةَنيدملاَيلْهَأَنكا َ سَم
                       ْ َ
                                                             َ ُ
        ُ َ
                                                َ

                َ َ
      ِ                          ِ
                                ي َ
                            ْ
         ي
                                                     ي
             َ
        ْ
   َ،َّنُنَّمَ َ ي لِذَنوُغَتْبيَ ُ قاسُفلاَ َ كئلوُأَن َ كََفَ،َّنُتَجاحَيْضْقي َ َ ي قرُْطلا
                                             َ
                َ
                                              َ َ َ
                                                            ُ َ
                    َ
                                    َ
                         َّ
                                          ْ
                                   ُ
                            ي ي
                                                َ
                    ُ
         َ
                                                            َ
   ََاوَأرَاذاوَ.ا ْ نََّع ََاوُْفكَ،ٌةرحَهذَهَ:اولا َ َقَ ٌ بابليجَا ْ يهلَعًَةَأرْماَاوَأرَاذاَف
                         َّ ُ
     ُ َ َ َ
                                              َ
                                                    َ ُ َ
                                          َ
                                                              ِ
          ِ    .    ا ْ يهَلاَاوبَث َ وَفَ.ةَمَأَهذَهَ:اولاَقَ، ٌ بابليجَا ْ يهلَعَسْيلََةَأرملا
                                             ْ
                                     ُ
                                                         َ
                                                  َ
                                                              ْ
                           ٌ ي ي
                                                       َ
                َ
                                                 َ
                  ِ    َ ُ                  َ               ْ َ
       Semua hal ini hasil potret keadaan sosio kultural di
    Madinah  kala  itu.  Tempat  buang  hajat  itu  di  luar
    rumah bahkan di luar pemukiman Madinah yaitu di
    padang pasir.
       Kalau  mau  buang  hajat,  harus  menunggu  gelap
    malam, biar tidak malu sama onta. Tapi resikonya,
    wanita budak akan diganggu pemuda jail, sedangkan
    wanita merdeka tidak diganggu. Lalu antisipasinya :
    wanita merdeka diwajibkan pakai jilbab.
       Lalu zaman berubah, buang hajat tidak lagi harus
    di padang pasir, maka tidak ada lagi cerita pemuda
    iseng  mengganggu  wanita  budak.  Apalagi  hari  ini
    wanita budaknya sudah tidak ada lagi.
    2. Dimensi Sosial Dalam Fiqih Shalat
       Di antara contoh dimensi sosial dalam fiqih shalat
    adalah terkait dengan pendidikan anak untuk ibadah
    shalat dan ke masjid.
    a. Perintah Shalat Sejak Tujuh Tahun
       Perlu  disadari  bahwa  memberi  motivasi  dan
    contoh  kepada  anak-anak  dalam  masalah  shalat
    memang  harus  sejak  dini.  Namun  perlu  disadari
    bahwa  ada  waktu  dan  usia  tertentu  berdasarkan
    nash-nash syariah, kapan hal itu mulai dilakukan.
                           muka  | daftar isi
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34