Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 31 OKTOBER 2019
P. 106
Title RIBUAN BURUH ANCAM KEPUNG KEMNAKER BESOK, INI TUNTUTANNYA
Media Name detik.com
Pub. Date 30 Oktober 2019
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/4765845/ribuan-buruh-a ncam-kepung-
Page/URL
kemnaker-besok-ini-tuntutannya
Media Type Pers Online
Sentiment Negative
Jakarta - Ribuan buruh dari beberapa daerah yang tergabung dalam Konfederasi
Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan menggelar aksi unjuk rasa di kantor
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) besok, Kamis (31/10/2019).
Demikian disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said
Iqbal melalui siaran pers yang dikutip detikcom , Rabu (30/10/2019).
"Ribuan buruh dari Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang tergabung dalam
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan menggelar aksi unjuk rasa di
kantor Kementerian Ketenagakerjaan," katanya.
Dalam unjuk rasa ini buruh menuntut dua hal, yakni menolak upah minimum
provinsi (UMP) yang naik 8,51% dan menolak kenaikan Iuran BPJS Kesehatan.
Buruh meminta agar Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah yang baru seminggu
dilantik segera mengabulkan tuntutan buruh.
"Selama ini Pemerintah mendorong adanya dialog sosial. Tetapi giliran menetapkan
kenaikan upah minimum dilakukan secara sepihak. Ini menunjukkan sikap anti
demokrasi," kata Said Iqbal.
Selain mengenai upah, dalam aksinya, buruh juga menolak Peraturan Presiden
Nomor 75 tahun 2019 terkait kenaikan iuran BPJS Kesehatan.
KSPI menilai, kenaikan iuran BPJS Kesehatan sangat merugikan rakyat. Apalagi
kenaikan tersebut dilakukan di tengah perekonomian yang sedang sulit.
"Pemerintah harus sadar, iuran BPJS akan ditanggung satu keluarga. Jika dalam
satu keluarga terdiri dari 5 orang, maka untuk Kelas III harus membayar Rp 210
ribu/bulan. Bayangkan masyarakat di Kebumen dan Sragen yang UMK nya hanya Rp
1,6 juta. Mereka harus mengeluarkan 10% lebih untuk membayar BPJS. Itu akan
mencekik rakyat kecil," tegas Iqbal.
(dna/dna) ump upah minimum provinsi ump dki 2019 buruh.
Page 105 of 173.

