Page 53 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 OKTOBER 2019
P. 53
berkembang
"Di Indonesia dari 136 juta angkatan kerja, 58% lulusan SD dan SMP. Kemudian
missmatch pendidikan formalnya di atas 50%. kita sederhanakan dengan 10
angkatan kerja, 58% lulusan SD dan SMP, 6 orang gugur untuk masuk ke pasar
kerja. Sisanya 4 orang lulusan SMA, SMK, Diploma dan Sarjana.
Missmatch di atas 50%, berati 2 orang. Jadi dari 10 orang, hanya 2 orang yang
pendidikannya laik dan pendidikannya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,"
terang Hanif.
Masalah lainnya adalah ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia yang terlalu kaku
sehingga menghambat penciptaan lapangan kerja melalui investasi. Dia menyebut,
produktivitas kerja, kesempatan kerja hingga jam kerja di Indonesia masih terlalu
kaku.
Perkembangan teknologi yang masif dan cepat, menurut Hanif, menjadi salah satu
tantangan Indonesia di bidang ketenagakerjaan. Perkembangan yang terjadi
menimbulkan perubahan pada industri, jenis pekerjaan hingga tenaga kerja yang
dibutuhkan.
Hanif mengatakan, pemerintah pun terus berupaya untuk mengurai berbagai
tantangan di bidang ketenagakerjaan. Selain memperbaiki ekosistem
ketenagakerjaan menjadi lebih fleksibel dan responsif pada perubahan, pemerintah
terus berupaya memperkuat pelatihan dan pendidikan vokasi.
Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk memfasilitasi pekerja muda untuk
masuk ke ekonomi kreatif dan ekonomi digital serta mengurangi missmatch
pendidikan formal.
Tak hanya dari pemerintah, Hanif pun berharap industri turut berpartisipasi dengan
pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, untuk mendorong partisipasi
industri, pemerintah sudah menyediakan insentif super deduction tax bagi
perusahaan yang berinvestasi pada pendidikan vokasi dan melakukan penelitian dan
pengembangan untuk menciptakan inovasi.
Page 52 of 116.

