Page 279 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 Mei 2019
P. 279
Bahkan dalam kasus "pabrik kuali" di Tangerang ada buruh anak disekap, dan
dijadikan budak perusahaan. Mereka tidak bisa keluar perusahaan dan terus bekerja
seperti mesin-mesin di pabrik besar hingga tak kenal malam dan siang. Walhasil,
pemilik perusahaan akhirnya dipidana 11 tahun. Hal sama berlangsung di pelbagai
pabrik-pabrik lainnya yang tak terjangkau media.
Definisi buruh juga dipersempit hanya mereka yang bekerja di perusahaan dengan
jenis pekerjaan yang tersedia, dimana ada pekerja, pemberi kerja dan pekerjaan itu
sendiri sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU Ketenagakerjaan Jo. Pasal 1
ayat (6) UU 21/2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang pada pokoknya
memberi defini bahwa pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan
menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Dengan makna itu, Pembantu Rumah Tangga juga adalah buruh, pekerja kantoran,
pekerja media, bahkan dosen sekalipun adalah buruh. Mereka memiliki hak dan
kewajiban yang diatur menurut jenis pekerjaannya dan mendapat gaji atau imbalan
dari pekerjaannya itu.
Dapat dibayangkan jika para buruh itu satu suara dan gerak langkah dan melakukan
pemogokan massal secara serentak dalam waktu yang sama betapa dahsyat
kekuatan politik buruh andaikata mereka bisa satu dalam melakukan tekanan politik
mengubah kebijakan yang merugikan hak-haknya.
Sayangnya, kekuatan buruh itu tidak terkelola secara baik, organisasi buruh
terpecah belah bahkan cenderung bersaing antar mereka merebut panggung publik
dan media. Merasa paling kuat dan besar padahal tak lebih dari gelombang buih
menakutkan tapi di ujung tersapu angin sepoi godaan pengusaha atau penguasa.
Di pilpres ini, kekuatan buruh samakin terkotak-kotak dengan polarisasi yang sangat
tajam terbelah menjadi serpihan tak berarti. Para pimpinan organisasi buruh gerilya
"menjual diri" ke pimpinan parpol tertentu atau capres lalu dukung mendukung
bahkan sebagian besar diantaranya sudah terstigmatisasi menjadi loyalis calon
tertentu, sehingga bukan lagi untuk kepentingan kolektifitas kaum buruh melainkan
kepentingan pribadi sang ketua dan konconya.
Akibatnya gerakan dan aksi buruh yang tadinya kuat, besar dan menggetarkan itu
seketika menjadi puing-puing memorial yang hanya sekedar diperingati May Day
dengan massa yang menakjubkan tetapi sesungguhnya mereka hanyalah kawanan
kumpulan dan gerombolan massa yang sedang menggelar pertunjukan sirkus
"menggetarkan" di pusat-pusat kota dan di panggung lain, pengusaha dan
penguasa konsi sejati hanya terbahak-bahak melihat tingkah mereka. Buruh bersatu
tak bisa dikalahkan!
Syamsuddin Radjab
Direktur Eksekutif Jenggala Center, mantan Ketua PBHI
Page 278 of 656.

