Page 509 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 Mei 2019
P. 509

Sejak era reformasi, sebenarnya serikat buruh/pekerja telah melakukan politik
               praktis sebagai partai politik peserta pemilu. Pada Pemilu 1999, misalnya, partai
               yang berasal dari serikat buruh/pekerja antara lain yaitu Partai Solidaritas Pekerja
               Seluruh Indonesia, Partai Buruh Nasional, Partai Solidaritas Pekerja, Partai Pekerja
               Indonesia. Kemudian, pada Pemilu 2004, Partai Buruh Sosial Demokrat dan Pemilu
               2009 Partai Buruh dan Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia.

               Namun, faktanya, selama tiga kali menjadi peserta Pemilu, perolehan suaranya tidak
               begitu signifikan. Sebagai alternatinya, serikat buruh/pekerja harus berafiliasi
               dengan partai politik yang ada saat ini dalam rangka mengusung agenda membela
               kepentingan buruh.

               Polarisasi Serikat Buruh/Pekerja Pada Pilpres 2019

               Meski memiliki kesamaan dalam memperjuangkan hak-haknya kepada pemerintah,
               akan tetapi ketika berbicara pada tataran ideologi antara serikat pekerja satu
               dengan yang lain sangat sulit disatukan. Saat ini saja, diperkirakan ada sekitar 15
               konfederasi serikat buruh/pekerja, belum termasuk serikat buruh/pekerja lainnya
               yang belum memiliki konfederasi yang jumlahnya mencapai ratusan.

               Setiap serikat maupun konfederasi buruh/pekerja yang ada saat ini memiliki
               agendanya sendiri-sendiri, sehingga mengakibatkan terbelahnya kekuatan mereka.
               Kondisi inilah yang kemudian membuat kekuatan buruh menjadi rebutan para aktor
               politik, meski tak jarang mereka hanya dijadikan alat bagi pihak-pihak yang
               berkepentingan untuk mencapai tujuan politiknya dan kemudian meninggalkannya
               ketika tujuan mereka memperoleh kekuasaan itu tercapai.

               Pada peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2018 lalu, Konfederasi Serikat
               Pekerja Indonesia (KSPI) telah mendeklarasikan dukungannya kepada pasangan
               Prabowo-Sandi. Sementara Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI)
               dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) mendukung pasangan
               Joko Widodo-Maruf Amin. Baik KSBSI maupun KSPSI juga menyatakan dukungan
               untuk Jokowi pada peringatan Hari Buruh pada Mei 2018. Dengan melakukan itu,
               mereka berharap untuk mendapatkan kesepakatan yang lebih baik menyangkut
               masalah tenaga kerja.

               Sejatinya, peringatan Hari Buruh atau 'May Day' tidak boleh dijadikan momentum
               untuk sosialisasi bagi peserta pemilu, baik itu partai politik maupun pasangan
               capres-cawapres. Kondisi semacam itu hanya akan membawa organisasi serikat
               buruh/pekerja semakin terkotak-kotak dan terkooptasi oleh kepentingan partai
               politik, yang berakibat tidak sejalannya esensi perjuangan kaum buruh dalam
               memperjuangkan hak-haknya.

               Oleh karena itu, peringatan Hari Buruh harus murni diisi oleh para buruh yang
               memperjuangkan hak-haknya. Partai politik maupun politikus semestinya tidak
               mempolitisasi kepentingan kaum buruh pada saat mereka menyampaikan sejumlah



                                                      Page 508 of 656.
   504   505   506   507   508   509   510   511   512   513   514