Page 412 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 412

Mahasiswa hanya dapat bergiliran berorasi di depan pintu gerbang. Petugas Satpol PP mengunci
              pintu  pagar  gerbang  gedung  DPRD,  dan  membuat  barikade  pagar  betis.  Sedangkan  aparat
              kepolisian  membentangkan  pagar  kawat  gulungan  di  depan  pintu  masuk  lapangan  upacara
              Korpri Pemprov Lampung.

              Tertahan beberapa jam, massa dari kalangan buruh mulai resah dan melempari batu dan botol
              dan serta gelar air meniral ke arah petugas dan mobil barakuda polisi. Massa aksi buruh terdiri
              dari anak, remaja, hingga orang dewasa. Sedangkan massa dari Mahasiswa Lampung Memanggil
              dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

              Petugas beberapa kali menyemprotkan air ke arah massa kalangan buruh di lapangan depang
              gedung DPRD. Massa semakin beringas menaiki pagar lapangan dan melempar batu kembali ke
              arah petugas dan mobil. Beberapa mobil yang sedang parkir terkena pecahan batu.

              Perwakilan mahasiswa sedang melakukan negosiasi untuk bertemu dengan perwakilan  DPRD
              Lampung  untuk menyampaikan aspirasinya menolak  UU Cipta Kerja  yang telah disahkan DPR
              RI. Namun, tidak tahan menunggu karena kondisi cuaca panas, massa mahasiswa menjebol
              pintu pagar dan masuk mengarah ke gedung DPRD. Petugas Satpol PP dan polisi tidak dapat
              menghalau aksi massa tersebut.

              Untuk menghindari terjadi kericuhan yang parah, massa dari kalangan buruh juga diperkenankan
              masuk bergabung dengan massa mahasiswa dan pelajar. Aksi mulai mereda, setelah memasuk
              waktu Sholat Zhuhur. Perwakilan mahasiswa melantunkan azan kemudian diikuti dengan Sholat
              Zhuhur berjamaah. Aksi massa dari mahasiswa dan kalangan buruh mulai mereda.

              Heri, perwakilan mahasiswa dari Unila, menyatakan, aksi Mahasiswa Lampung Memanggil telah
              lama  mengawal  jalannya  RUU  Cipta  Kerja  atau  Omnibus  Law  dengan  melakukan  aksi-aksi
              penolakan pada tahun lalu. "Namun, sekarang DPR sebagai wakil rakyat tidak menyerap aspirasi
              rakyat, tapi malah mensahkan RUU tersebut menjadi Undang Undang," katanya.

              Menurut Gani, mahasiswa lainnya, yang sengaja terpanggil untuk ikut aksi penolakan UU Cipta
              Kerja, karena UU Cipta Kerja tidak mencerminkan aspirasi rakyat dan mahasiswa. UU tersebut,
              ujar dia, hanya untuk kepentingan kapitalisme dan menekan pekerja atau buruh. "Bagaimana
              pun Undang Undang Omnibus Law harus dibatalkan dan dicabut karena tidak sesuai dengan
              Pancasila dan UUD 1945," tegasnya.

              Sementara dari kalangan buruh menolak tegas UU Cipta Kerja, karena praktiknya UU tersebut
              akan mencekik nasib buruh semakin tertekan. "Tidak ada sama sekali pembelaan DPR terhadap
              nasib  buruh.  Malah  nasib  buruh  semakin  tercekik,"  kata  Irwan,  kalangan  buruh  di  Bandar
              Lampung..























                                                           411
   407   408   409   410   411   412   413   414   415   416   417