Page 1017 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 1017

jangka waktu paling lama satu tahun. "Akan secara otomatis membuat pesangon hilang. Ini akan
              merugikan kaum buruh," akunya.
              Ditambahkannya, pihak juga masih menimbang apakah KSBSI akan turun aksi. Apabila, jika hasil
              kajian malam ini mengatakan UU Omnibus Law Ciptaker merugikan buruh pihaknya akan turun.
              "Kami pastikan akan turun jika merugikan kaum buruh. Tetapi, serikat buruh lain besok (hari ini)
              akan turun hingga tanggal 8 besok," ucapnya.

              Di sisi lain, Ketua KSPSI Sulsel, Basri Abbas dengan tegas menolak pengesahan RUU Cipta Kerja.
              "Kami pada prinsipnya sangat menyesalkan pengesahan ini di tengah pandemi. Di mana banyak
              pekerja kami dirumahkan dan dampak dari pengesahan ini pengusaha dengan mudah mem-PHK
              pekerja," sesalnya.

              Kemudian,  diakuinya,  pengusaha  akan  mempekerjakan  pekerja  dengan  cara  kontrak  saja.
              Karena RUU Cipta Lapangan Kerja memberi peluang sangat besar kepada pengusaha untuk itu.

              "Jadi ke depan akan terjadi hubungan kerja yang sangat kapitalis dan perbudakan modem yang
              di bungkus undang-undang. Maka dengan ini SPSI akan mengadakan gerakan penolakan RUU
              Cipta Lapangan kerja dan mendorong diuji di MK," tegasnya.

              Demokrat Menolak

              Paripurna  pengesahan  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja  dipimpin  Wakil  Ketua  DPR,  Azis
              Syamsuddin.  Sidang  paripuna  ini  digelar dengan  protokol ketat.  Sebagian  anggota parlemen
              hadir di ruang paripurna, sisanya hadir secara virtual.

              RUU Omnibus Law ini mayoritas disetujui sembilan fraksi di DPR. Hanya ada dua fraksi, Demokrat
              dan PKS yang konsisten. Keduanya tetap menolak pengesahan RUU ini.

              Jubir Fraksi Demokrat, Marwan Cik Asan mengatakan fraksinya menolak karena RUU ini dinilai
              sudah bergeser dari semangat Pancasila. RUU ini dianggap tak sejalan dengan sila Pancasila
              yang berkeadilan sosial. "RUU ini kami nilai terlalu kapitalistik. Bahkan terlalu neoliberalistik,"
              bebernya.

              Selain itu, pihaknya menilai RUU ini cacat prosedural dan substansial. Pembahasan RUU tidak
              melibatkan kalangan masyarakat, buruh dan civil society. "Terlalu terburu-buru. Masih banyak
              hal yang perlu dibahas secara komprehensif agar RUU ini lebih berkeadilan sosial," tuturnya.

              Jamin Hak

              Ketua Baleg DPR RI, Supratman Andi Agtas menuturkan RUU ini tetap memberikan hak-hak
              untuk pekerja. Justru menurutnya, RUU Cipta Kerja ini akan meningkatkan perlindungan kepada
              para pekerja melalui penetapan program jaminan kehilangan pekerjaan yang seluruh preminya
              dibebani kepada APBN.

              "Persyaratan  PHK  tetap  mengikuti  UU  Ketanagakerjaan  dan  RUU  Cipta  Kerja  tidak
              menghilangkan hakc uti, hak haid, dan cuti hamil yang diaturan dalam UU Ketanagakerjaan,"
              ujarnya.

              Terkait keberadaan tenaga kerja asing (TKA), juga sudah diatur untuk melindungi pekerja dalam
              negeri atau lokal. Kata dia, dalam pengaturan TKA, pemerintah mewajibkan setiap pemberi kerja
              TKA harus memiliki rencana penggunaan TKA yang disahkan pemerintah pusat.

              "Juga pemberi kerja orang-perorangan dilarang mempekerjakan TKA. Selain itu, TKA dilarang
              menduduki jabatan yang mengurus personalia di perusahaan," tukasnya, (tam-edo/*)



                                                          1016
   1012   1013   1014   1015   1016   1017   1018   1019   1020   1021   1022