Page 909 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 909

Seolah  tak  cukup  kurangi  hak  karyawan  dari  sisi  pengurangan  uang  pesangan  Pemutusan
              Hubungan Kerja (  PHK  ), bahkan hak beristirahat dan libur pun bagi  pekerja  dipangkas. Dalam
              draft final  UU Cipta Kerja  tertuang soal jam kerja dan waktu istirahat  pekerja  . Ada perbedaan
              terkait waktu istirahat mingguan yang juga jadi tuntutan  buruh  .

              Pada Bab IV Ketenagakerjaan halaman 436 pasal 79, diatur tentang waktu istirahat dan cuti.
              Seperti sebelumnya, ayat 1 menjelaskan bahwa pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan
              cuti. Ayat 2 huruf (a) dijelaskan bahwa waktu istirahat saat jam kerja paling sedikit setengah
              jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus.

              Waktu istirahat itu tidak termasuk dalam jam kerja. Ketentuan ini sama seperti diatur Undang-
              Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Kini yang berbeda dan berubah, adalah
              istirahat mingguan yang kini hanya ditentukan satu hari saja dalam  sepekan  .

              "Istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu," demikian
              bunyi ayat 2 huruf (b) di Omnibus Law Cipta Kerja itu.
              Artinya, ketentuan itu menghapus aturan UU ketenagakerjaan yang sebelumnya membuka opsi
              libur dua hari dalam  sepekan  . Seperti dalam pasal 79 UU sebelumnya yang menyatakan bahwa
              masa istirahat mingguan tidak boleh kurang dari 1 hari setelah 6 hari kerja atau tidak boleh
              kurang dari 2 hari setelah lima hari kerja dalam satu minggu.
              Sedangkan terkait cuti, ditetapkan paling sedikit 12 hari kerja setelah  pekerja  bekerja selama
              12  bulan  secara  terus  menerus.  Pelaksanaan  cuti  tahunan  itu  diatur  dalam  perjanjian  kerja,
              peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

              Walau begitu, dikutip dari  Warta Ekonomi  , pasal 5 menjelaskan bahwa waktu istirahat dan cuti
              sebagaimana dimaksud dalam pasal 1, 2 dan 3, untuk perusahaan tertentu dapat memberikan
              istirahat panjang yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja
              bersama.
              Pesangon dipangkas  Jika sebelumnya, nilai  pesangon  adalah sebesar 32 bulan dari nilai upah,
              kini dipangkas hanya menjadi 25 bulan dari nilai upah.

              Dari 25 bulan tersebut, sebanyak 19 bulan dibayarkan pengusaha dan enam bulan dibayarkan
              BPJS Ketenagakerjaan melalui Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

              "Pemotongan  pesangon  apakah menjadi kerugian buat  pekerja  , mungkin iya. Tapi, kita
              termasuk paling tinggi dalam memberikan  pesangon  dibandingkan negara lain.

              Sebab itu, kita cari jalan tengah untuk meringankan beban pengusaha," ujar Sekretaris Komite
              Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Raden Pardede, di Jakarta,
              Senin 5 Oktober 2020.
              Dinilainya  pesangon  tersebut dianggap masih menguntungkan bagi  buruh  yang terdampak
              PHK  . Pasalnya, pemerintah juga masih memberikan bantuan sosial bagi korban  PHK  .

              "Bantuan sekarang itu ada BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan untuk subsidi gaji, dan bansos
              lainnya  yang  akan  terus  dinaikkan.  Sekalipun  nanti  orang  tidak  bekerja  dan  berkurang
              pesangonya masih ada bansos," jelasnya seperti dikutip dari  Warta Ekonomi  .

              Walau  apapun  itu  alasannya,  perubahan  ini  memicu  reaksi  kalangan    buruh    .  Mereka
              berdemonstrasi menolak aturan ini karena dinilai kebijakan itu tak berpihak pada  buruh  dan
              pekerja  .***.




                                                           908
   904   905   906   907   908   909   910   911   912   913   914