Page 904 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 904

Ringkasan

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan RUU  Cipta Kerja  tetap mengatur hak-hak
              dan  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh  sebagaimana  peraturan  perundang-undangan
              eksisting (UU 13/2003 dan PP 78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah
              yang baru.



              UU CIPTA KERJA DISAHKAN, BERDAMPAK KE FORMULA KENAIKAN UMP?
              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan RUU  Cipta Kerja  tetap mengatur hak-hak
              dan  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh  sebagaimana  peraturan  perundang-undangan
              eksisting (UU 13/2003 dan PP 78/2015) dan selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah
              yang baru.
              "Terdapat  penegasan  variabel  dan  formula  dalam  penetapan  Upah  Minimum  berdasarkan
              pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi.  Selain  itu,  ketentuan  mengenai  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota  tetap  dipertahankan,"  kata  Ida  dalam  keterangannya,  di  Jakarta,  Selasa
              (6/10/2020).

              Jelasnya, dengan adanya kejelasan dalam konsep penetapan Upah Minimum dimaksud, maka
              RUU Cipta Kerja menghapus ketentuan mengenai penangguhan pembayaran Upah Minimum.

              Disamping  itu,  dalam  rangka  memperkuat  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh  serta
              meningkatkan  pertumbuhan  sektor  Usaha  Mikro  dan  Kecil,  maka  RUU  Cipta  Kerja  mengatur
              ketentuan pengupahan bagi sektor Usaha Mikro dan Kecil.

              "RUU    Cipta  Kerja    semakin  mempertegas  pengaturan  mengenai  "upah  proses"  bagi
              pekerja/buruh selama PHK masih dalam proses penyelesaian perselisihan hubungan industrial
              sampai  adanya  putusan  pengadilan  yang  berkekuatan  hukum  tetap  (incraht).  Hal  ini
              sebagaimana amanat Putusan MK No.37/PUU-IX/2011," jelasnya.

              Selain  itu,  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan  perlindungan  hak  bagi
              pekerja/buruh Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang menjadi dasar dalam penyusunan
              perjanjian kerja. Disamping itu, RUU  Cipta Kerja  mengatur perlindungan tambahan berupa
              kompensasi kepada pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT.

              "Ketentuan  mengenai  waktu  kerja  dan  waktu  istirahat  tetap  diatur  seperti  UU  eksisting  (UU
              13/2003) dan menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat
              pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu," ujarnya.

              Menurut Ida, hal itu untuk mengakomodir tuntutan perlindungan pekerja/buruh pada bentuk-
              bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang
              secara dinamis.

              Wakil  Ketua  Konfederasi  Persatuan  Buruh  Indonesia  (KPBI),  Jumisih,  mengutarakan  sikap
              kekecewanya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah mengesahkan RUU Cipta Kerja
              menjadi Undang-Undang. Pengesahan tersebut, dianggal terlalu cepat dan sangat merugikan
              buruh di tengah kondisi terjadi sekarang ini.

              "Pasti kami sangat kecewa sekali, kita marah, ingin nangis, ini kekecewaan yang luar biasa buat
              buruh dan pekerja yang masih bekerja di pabrik," kata dia saat dihubungi, Senin (5/10/2020).

              Dia menuturkan, dengan disahkannya UU Cipta Kerja semakin menunjukan keyakinan bahwa
              sebetulnya pemerintah dan DPR tidak berpihak kepada rakyat. Keduanya, justru berpihak kepada
              pihak-pihak tertentu seperti korporasi dan pemilik modal.
                                                           903
   899   900   901   902   903   904   905   906   907   908   909