Page 902 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 902

"Seperti yang sudah diketahui, RUU Cipta Kerja mengancam banyak sektor, mulai dari kebebasan
              sipil, keadilan sosial, ekonomi, budaya dan keberlanjutan lingkungan hidup," ujarnya.
              Ia mengatakan, sebagai Rancangan Undang-Undang yang dibentuk dengan metode Omnibus
              Law, RUU Cipta Kerja memuat banyak klaster dan sub-klaster isu pembahasan, yang di dalamnya
              total ada lebih dari 81 (delapan puluh satu) Undang-Undang serta seribu lebih pasal di seluruh
              undang-undang tersebut yang diubah.

              Pdt. Penrad Siagian kemudian memaparkan persoalan mendasar dari Omnibus Law yang telah
              disahkan oleh DPR RI tersebut. Berikut penjelasannya yang tercantum di petisi online tersebut:
              Beberapa persoalan mendasar dalam RUU Cipta Kerja ini, antara lain:

              1.  Spionase  dan  ancaman  kebebasan  beragama-berkeyakinan,  khususnya  adanya  wacana
              pengawasan  aliran  kepercayaan  oleh  kepolisian.  Ketentuan  ini  justru  akan  melanggengkan
              stigma,  penyingkiran,  diskriminasi  dan  pelanggaran  HAM  yang  terjadi  berpuluh-puluh  tahun
              kepada kelompok minoritas agama atau keyakinan dan menimbulkan kecurigaan antar sesama
              warga negara.

              2. Pemangkasan hak-hak buruh/pekerja. Nantinya pekerja/buruh akan diupah semurah mungkin
              dengan  penghitungan  upah  per  jam  dan  dilegalkannya  pembayaran  upah  di  bawah  standar
              minimum di sebagian sektor ketenagakerjaan. Selain itu status dan kepastian kerja tidak jelas
              lewat outsourcing dan kontrak kerja tanpa batasan waktu.

              3. Potensi konflik agraria dan SDA/lingkungan hidup. Selama 5 tahun terakhir ada 1.298 kasus
              kriminalisasi  terhadap  rakyat  akibat  mempertahankan  hak  atas  tanah  dan  wilayah  hidupnya.
              Misalnya perubahan atas UU P3H (Pasal 82, 83 dan 84, yang ada di dalam pasal 38 UU Cipta
              Kerja) soal ancaman pidana kepada orang-perorangan yang dituduh melakukan penebangan
              pohon, memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk
              menebang, memotong dan membelah pohon tanpa perizinan dari pejabat yang berwenang di
              kawasan hutan.

              4. Pemangkasan ruang penghidupan kelompok nelayan, tani, dan masyarakat adat atas nama
              kepentingan  pembangunan  dan  ekonomi.  Aturan  ini  akan  memberikan  kemudahan  bagi
              korporasi  dan  pemerintah  untuk  merampas  tanah  dan  sumber  daya  alam  yang  dikuasai
              masyarakat,  baik  kelompok  miskin  kota,  masyarakat  adat,  petani,  dan  nelayan.  Akibatnya,
              kelompok nelayan, tani, dan masyarakat adat berpotensi tak memiliki ruang penghidupan yang
              bebas dan berdaulat untuk menopang kehidupannya.

              5.  Kekuasaan  birokratis  yang  terpusat  berlawanan  dengan  semangat  desentralisasi/otonomi
              daerah  pasca  1998.  RUU  Cipta  Kerja  akan  menarik  kewenangan  pemerintah  provinsi  dalam
              mengelola  mineral  dan  batubara,  termasuk  kewenangan  penerbitan  peraturan  daerah  dan
              penerbitan izin.

              Kami selaku para pemuka agama menyadari bahwa ruh kehadiran agama dan kepercayaan bagi
              dunia  adalah  berdiri  bagi  kemaslahatan  seluruh  umat  manusia  dan  alam-lingkungan,  karena
              itulah sejatinya fitrah panggilan bagi agama dan kepercayaan hadir ke tengah-tengah dunia.

              Karena itu kami meminta DPR RI untuk membatalkan Omnibus Law dan kembali membuka ruang
              partisipasi publik yang demokratis.

              Omnibus Law adalah ancaman untuk kita semua. Ancaman untuk demokrasi Indonesia. Kami
              bersuara dengan petisi ini, untuk mengajak teman-teman menyuarakan keadilan.

              5  Oktober  2020    Salam,    PARA  PEMUKA  AGAMA  se-INDONESIA    Inisiator:    1.  Prof.  Busryo
              Muqodas  2. Pdt. DR. Merry Kolimon  3. Ulil Absar Abdalla  4. Engkus Ruswana  5. Roy Murtadho
              6. Pdt. Penrad Sagian(agt/fay).
                                                           901
   897   898   899   900   901   902   903   904   905   906   907