Page 27 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 27

Hal senada disampaikan Ketua DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta
              Sarman  Simanjorang.  Menurut  nya,  saat  ini  data-data  ekonomi  menunjukkan  kondisi
              perekonomian  Tanah  Air  sedang  tidak  sehat  dan  cukup  berat  bila  ditambah  dengan  beban
              kenaikan upah.

              la mengambil contoh data pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang saat ini tengah terpuruk. Jadi
              sudah sewajamya kalau upah minimum tahun 2022 tak dinaikkan terlalu tinggi (Tirto id. 18/11).

              Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Ce Neue OE EBay aes be) Bhima Yudhistira
              menjelaskan fakta besaran kenaikan upah minimum yang nilainya lebih kecil dari inflasi sudah
              cukup membuktikan sejauh mana keberpihakan pemerintah terhadap masa depan buruh.

              Ia  mengatakan  pemerintah  keliru  dalam  metihat  kondisi  perckonomian  nasional  dalam
              menetapkan UMP 2022. Kesalahan 'tu berangkat dari pemahaman pemerintah yang menyebut
              kenaikan upah minimum yang terlalu tinggi bisa membebani kalangan usaha dan menghambat
              pemulihan ekonomi.
              Dari sini jelas terlihat pertimbangan kebijakan ini lebih mementingkan kondisi para pelaku usaha,
              bukan nasib burub yang maxih terkatung-katung dengan kesejahteraan hidup.

              Sehingga, alasan apapun yang disampaikan pemerintah tampaknya tak cukup efektif meredakan
              kemarahan kalangan buruh. Maklum saja, angka kenaikan upah pada 2022 itu jauh lebih kecil
              dari harapan buruh yang mengusulkan kenaikan UMP 2022 sebesar 10% dibanding UMP 2021
              yang dihitung berdasarkan rerata besaran kenaikan harga barang dalam kelompok barang dan
              jasa pada Komponen Hidup Layak (KHL).

              Inilah yang menjadi dasar penetapan upah minimum bagi buruh dalam sistem kapitalisme. Di
              mana,  upah  buruh  ditetapkan  berdasarkan  kebutuhan  hidup  paling  minimum.  Bukan
              berdasarkan jasa yang diberikan oleh tenaganya pada seseorang atau masyarakat Persoalan
              upah buruh memang seolah tak pernah ada habisnya.
              Terlebih pasca dimulainya pembahasan UU Ciptaker dan turunannya, formulasi upah minimum
              menjadi topik yang terus diperdebatkan. Sejatinya, kesejahteraan buruh akan selalu menjadi
              mimpi selama sistem pengupahan yang diterapkan bukanlah sistem yang adil.

              Hal inilah yang mestinya di tinjau ulang. Sebab, dengan penetapan upah be dasarkan KHL upah
              buruh tidak 'akan memberikan keadilan dan kesejahteraan hidup sampai kapan pun.

              Meski,  mendapat  upah  tinggi  itu  hanya  sebatas  untuk  memenuhi:  kebutuhan  hidup  mereka
              karena di wilayah yang taraf hidupnya tinggi, upah tinggi belum menjamin kesejahteraan hidup.
              Boleh jadi pendapatan tinggi, tetapi pengeluaran juga tinggi karena harga barang dan jasa lebih
              'mahal daripada wilayah yang taraf hidupnya rendah.

              Padahal, besaran upah bisa berbedaeda sesuai jasa yang pekerja berikan, jenis pekerjaan, waktu
              bekerja,  dan  tempat  bekerja,  tidak  dikaitkan  dengan  standar  hidup  minimum  masyarakat.
              Pekerja yang profesional/mahir di bidangnya wajar mendapatkan upah lebih tinggi dibandingkan
              pekerja pemula.

              Sungguh, berbeda dengan sistem upah dalam islam. Syariat Islam mengatur akad ijarah antara
              pekerja  dan  pengusaha.  Penetapan  besaran  upah  kerja,  jenis  pekerjaan,  dan  waktu  kerja
              'merupakan akad berdasarkan keridaan kedua belah pihak.

              Tidak  boleh  ada  yang  merasa  terpaksa  dan  rugi.  Islam  menetapkan  besaran  upah  buruh
              berdasarkan manfaat tenaga pekerja, bukan kebutuban hidup paling minimum. Karena itu, tidak
              akan terjadi eksploitasi buruh oleh para majikan, Prinsip pengupahan dalam Islam tidak terlepas

                                                           26
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32