Page 610 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 610

Sementara Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp. 4.368.581,85 naik sebesar Rp. 75.000, atau 1,75
              persen dari UMK 2021. Jika menggunakan formula PP 36/2021, maka tidak ada kenaikan UMK.
              Kabupaten Pasuruan sebesar Rp. 4.365.133,19 naik sebesar Rp. 75.000,- atau naik 1,75 persen
              dari UMK 2021. Jika menggunakan formula PP 36/2021, maka tidak ada kenaikan UMK.

              Sedangkan Kabupaten Mojokerto sebesar Rp. 4.354.787,17 Naik sebesar Rp. 75.000,- atau naik
              1,75 persen dari UMK 2021. Jika menggunakan formula PP 36/2021, maka tidak ada kenaikan
              UMK.

              "Kami  cukup  mengapresiasi  Gubernur  Jawa  Timur  yang  telah  memberikan  kebijakan  khusus
              untuk daerah Ring-1 keluar dari formulasi PP 36/2021 dan mengabaikan surat edaran Menteri
              Ketenagakerjaan yang mewajibkan penetapan UMK 2022 menggunakan formulasi PP 36/2021,"
              ujar Jazuli Meski demikian selain daerah Ring-1 penetapan UMK tahun 2022 masih menggunakan
              formulasi  PP  36/2021,  sehingga  terdapat  5  Kabupaten  yang  tidak  mengalami  kenaikan,  di
              antaranya  Kabupaten  Malang  sebesar  Rp.  3.068.275,36  Kabupaten  Jombang  sebesar  Rp.
              2.654.095,88, Kabupaten Probolinggo sebesar Rp. 2.553.265,95, Kabupaten Jember sebesar Rp.
              2.355.662,9, Kabupaten Pacitan sebesar Rp. 1.961.154,77.

              Ia menuturkan bahwa ada juga daerah-daerah yang padat industri dan terdapat perusahan-
              perusahaan  besar  semisal  Kabupaten  Tuban  ada  perusahaan  Semen  terbesar  di  Indonesia,
              penetapan  UMK  sebesar  Rp.  2.539.224,88  atau hanya  naik  sebesar  Rp.  6.990,11  (naik  0,28
              persen dari UMK 2021). Hal tersebut tidak adil bagi pekerja atau buruh.

              "Tentu kami sangat menyayangkan penetapan UMK di Jawa Timur tahun 2022 masih terdapat
              Kabupaten/Kota  yang  mengacu  kepada  PP  No.  36/2021,  meski  Mahkamah  Konstitusi
              menangguhkan pemberlakuan PP 36/2021 tersebut," jelasnya.

              Sejatinya penetapan UMK tahun 2022 yang masih menggunakan formulasi PP 36/2021 tidak
              memberikan  nilai  tambah  bagi  kesejahteraan  buruh.  Kanaikan  upah  tersebut  tidak  dapat
              meningkatkan daya beli buruh, malah sebaliknya daya beli buruh tergerus inflasi.

              "Oleh sebab itu, kami serikat pekerja atau serikat buruh Jawa Timur menolak Penetapan Upah
              Minimum  Kabupaten/Kota  (UMK)  di  Jawa  Timur  tahun  2022  yang  masih  menggunakan
              perhitungan formulasi PP 36/2021 tentang Pengupahan," paparnya.
              Pihaknya  mengingatkan  Gubernur  Jawa  Timur  agar  tetap  memberlakukan  atau  menetapkan
              Upah Minimum Sektoral (UMSK) di Jawa Timur tahun 2022 sebagaimana yang telah dijanjikan,
              Selasa (30/11/2021) kemarin saat menerima perwakilan GASPER Jatim dalam aksi demonstrasi
              puluhan ribu buruh di Grahadi.

              Penetapan UMSK tersebut berpedoman pada rekomendasi Bupati atau Wali Kota dan hasil rapat
              Dewan Pengupahan Provinsi dari unsur Serikat Pekerja atau Serikat Buruh.

              (*).















                                                           609
   605   606   607   608   609   610   611   612   613   614   615