Page 39 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 OKTOBER 2019
P. 39
Berbanding terbalik, tren angka pengangguran SD sampai dengan SMP dalam 5
tahun terakhir ini justru menurun. Pada 2014, angka pengangguran SD turun dari
3,69 persen menjadi 2,65 persen. Sementara SMP turun dari 7,44 persen menjadi
5,04 persen.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri
Firdaus mengatakan, angka ini bisa menjadi bom waktu karena pasar tenaga kerja
ke depan mengarah ke automatisasi.
"58 persen orang yang bekerja masih lulusan SMP ke bawah. Ada isu nanti ke depan
lapangan kerja banyak yang akan hilang meski ada juga yang bermunculan. Kalau
skill terbatas, mereka akan susah adaptif," ucap Heri saat dihubungi reporter Tirto
Selasa (15/10/2019).
Tak Terserap Industri Memang, secara intuitif, umumnya lulusan pendidikan SMA
hingga Universitas cenderung pilih-pilih dalam mencari pekerjaan. Tapi menurut
Heri, hal itu tak bisa dijadikan apologi lantaran di saat yang bersamaan, kinerja
industri pengolahan atau manufaktur juga menunjukkan perlemahan.
Akibatnya, ribuan tenaga kerja terutama lulusan sekolah kejuruan (SMK) tak bisa
terserap ke sektor industri.
BPS mencatat, pertumbuhan pekerja sektor manufaktur mengalami perlambatan
sebesar 0,2 persen year on year.
Di sisi lain, kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
juga turun dari 4,51 persen (kuartal IV/2017) menjadi menjadi 4,25 persen (kuartal
IV/2018).
Lantaran itu lah, menurut Heri, pemerintah harus mempertimbangkan ketersediaan
Page 38 of 83.

