Page 40 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 OKTOBER 2019
P. 40
lapangan kerja ketika mendirikan sekolah-sekolah kejuruan. Di samping itu,
penyiapan tenaga kerja lewat SMK juga harus memperhatikan potensi masing-
masing daerah.
"Ini bikin sekolah-sekolah untuk pekerjaan yang lagi dicari, padahal nanti ada titik
optimum dan tidak efektif. Harusnya sesuai core daerahnya apa," terang Heri.
Pekerja Informal Masih Tinggi Ekonom Center of Reform on Economics (CORE),
Akhmad Akbar Susamto, memberi catatan pada proporsi tenaga kerja informal yang
masih tinggi.
Dalam lima tahun terakhir, pekerja informal hanya turun dari 59,81 persen (Februari
2014) menjadi 57,27 persen (Februari 2019), meski sempat ditekan hingga 51,85
persen pada 2015.
Hal ini dirasa tak bagus bagi perekonomian sebab, sumbangsih sektor informal atau
"jasa lainnya" terhadap PDB hanya sebesar sebesar 1,84 persen , meski mengalami
pertumbuhan cukup-- hingga 9,84 persen pada kuartal IV tahun lalu.
"Kita kalau bisa memang banyaknya di formal bukan non formal. Kalau bisa formal
naik, informal turun. Masalahnya ini kebalikannya," tutur Akhmad dalam paparannya
di Hongkong Cafe, Jakarta Selasa (30/7/2019).
Apalagi, menurutnya, tingkat kesejahteraan para pekerja informal seperti buruh
tani, buruh bangunan, dan pembantu rumah tangga masih minim.
Dari analisisnya, upah nominal terus naik dari tahun ke tahun, tetapi upah nominal
sebagai ukuran daya beli yang mempertimbangkan kenaikan inflasi justru stagnan
dan menurun.
Data BPS menunjukan upah nominal per 1 Agustus 2017 mencapai Rp 50.100 per
Page 39 of 83.

