Page 64 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 OKTOBER 2019
P. 64
Ia mengatakan pengembangan pendidikan vokasi dengan melibatkan kerjasama
institusi pemerintah dan pihak swasta merupakan langkah konkrit perubahan
menuju kemandirian dan kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia.
Kegiatan itu diharapkan dapat membuat para pelaku industri dan politeknik
mendapatkan keuntungan informasi dan pengetahuan baru, sehingga pada akhirnya
bertujuan menekan angka pengangguran dan kelangkaan sumber daya manusia
bidang industri yang berkeahlian dan profesional.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti
Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo mengatakan jumlah pendidikan tinggi antara
politeknik dengan universitas di Indonesia masih jauh berbeda. Tidak tanggung-
tanggung, perbedaan itu mencapai lebih dari 80 persen, dimana jumlah politeknik di
Indonesia hanya ada 300 dari 4.760 perguruan tinggi yang ada.
"Padahal, jika mengacu pada negara-negara maju, angka politeknik dan universitas
harus seimbang keberadaannya. Artinya, Indonesia masih kekurangan 2.075
politeknik dari 300 politeknik yang ada. Standar negara maju itu seimbang. Kalau
perguruan tinggi kita sekarang ada 4.760, berarti idealnya kita kurang 2.075 dari
300 politeknik yang ada," katanya.
Patdono menuturkan berdasarkan data Kemenristekdikti, butuh waktu sekitar 800
tahun untuk menyeimbangkan keberadaan politeknik dengan universitas. Bahkan
saat ini hanya terdapat dua hingga tiga pengajuan pembangunan politeknik per
tahun.
Ini pun, katanya, pembangunan hanya dilakukan oleh kementerian dan industri.
Dari pihak swasta tidak berani membangun karena memakan biaya yang mahal.
Pewarta: Ahmad Wijaya Editor: Faisal Yunianto COPYRIGHT (c)2019 .
Page 63 of 82.

