Page 76 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 JANUARI 2020
P. 76
bersangkutan terbatas, maka jika menunggu pemulangan dari biaya malaysia harus
antri.
Menurut Eva, banyak TKI yang sudah tidak betah di tahanan karena kondisinya
yang sudah tentu tidak nyaman bagi TKI, sehingga mereka memutuskan lebih baik
segera pulang dengan konsekuensi biaya sendiri.
Untuk itu, kata Eva, pihaknya sebagai pemerintah memang harus lebih menguatkan
lagi program-program sosialisasi, pengetatan di imigrasi, penguatan gugus tugas
(task force) pencegahan TKI ilegal, dan yang juga penting hal ini harus dibicarakan
secara bilateral "Nanti isu ini juga akan kita angkat pada saat bilateral meeting agar
pemerintah Malaysia juga menerapkan law enforcement bagi pengguna TKI ilegal di
Malaysia," kata dia.
Pitter M. Matakena mengatakan, sebanyak 157 TKI yang diusir dari Malaysia itu,
karena berbagai masalah seperti, menggunakan paspor pelancong untuk bekerja di
Malaysia. "Jadi gayanya saja pergi melancong, tapi sampai di Malaysia justru
bekerja," ucapnya.
Selain itu, para pahlawan devisa negara ini rata-rata lari dari majikan tempat
bekerja, kemudian keluar-masuk Malaysia menggunakan jalur tikus, hingga akhirnya
tertangkap oleh aparat keamanan setempat. "Sebelum dideportasi ke Indonesia,
mereka sempat dipenjara dulu di Malaysia," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut TKI yang dipulangkan itu didominasi warga asal Jawa
Timur, Lombok, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sementara ini mereka ditampung di rumah penampungan TKI di kilometer 14,
Tanjungpinang, sambil menunggu jadwal pemulangan ke daerah masing-masing
menggunakan kapal PT Pelni. "Untuk jadwal pemulangan masih menunggu instruksi
dari Kementerian Sosial," ucap Pitter.
TKI asal Lombok, Putera ((29), mengaku lega bisa pulang ke Indonesia dengan
sehat dan selamat. Sebelum dideportasi, Putera sempat dipenjara sekitar tiga bulan
di Negeri Jiran tersebut. "Saya ditangkap petugas karena masuk Malaysia secara
ilegal/melalui pelabuhan tikus," tuturnya.
Page 75 of 87.

