Page 120 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 OKTOBER 2019
P. 120
Hanif mengatakan untuk menghadapi tantangan terbatasnya pekerja yang memiliki
skill berkualitas dengan jumlah banyak dan tersebar merata, pemerintah terus
membenahi dua aspek penting. Yakni ekosistem ketenagakerjaan dan jaminal sosial
bagi pekerja.
Hanif menilai saat ini ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia masih kaku. Salah
satunya aturan dalam bekerja yang masih kaku dan berdampak pada terhambatnya
produktivitas bagi pekerjanya itu sendiri.
"Maka dari itu saya ingin menegaskan perlunya mentransformasikan ekosistem yang
kaku tadi menjadi lebih fleksibel atau flexibility labour market," kata Hanif.
Hanif menambahkan setelah ekosistem ditransformasikan lebih fleksibel, maka
perlindungan sosial perlu diperkuat. Hal ini diperlukan, agar ke depan, para pekerja
harus bisa merasakan konsep pembelajaran seumur hidup (long life learning and
long life education). Yakni kondisi di mana seseorang bisa belajar terus menerus,
meningkatkan skill-nya terus menerus, beradaptasi skill-nya terus menerus, dan bisa
bekerja secara terus menerus dengan dinaungi perlindungan sosial
"Jadi di sini pentingnya menyeimbangkam keduanya, agar selaras dengan tujuan
yang sama sama kita harapka. Di saat skill/keterampilan menjadi hal wajib dalam
menghadapi dunia ketenagakerjaan yang semakin dinamis/fleksibel, maka semua
orang harus bisa mengalami long life learning melalui berbagai bentuk skilling,
upskilling, dan reskilling,"jelas Hanif.
Sementara Ketua Umum Apindo Haryadi B. Sukamdani mengatakan ITIS 2019
digelar pada momentum yang tepat. Apalagi menjelang dimulainya pemerintahan
baru periode 2019-2024 sehingga dapat membangun optimisme baru untuk
pemerintahan baru.
Page 119 of 136.

