Page 122 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 OKTOBER 2019
P. 122

angkatan kerja agar bisa terserap di pasar kerja dan menjadi wirausahawan, "
               paparnya.

               Hanif mengatakan untuk menghadapi tantangan terbatasnya pekerja yang memiliki
               skill berkualitas dengan jumlah banyak dan tersebar merata, pemerintah terus
               membenahi dua aspek penting, yakni ekosistem ketenagakerjaan dan jaminal sosial
               bagi pekerja.

               Hanif menilai saat ini ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia masih kaku lantaran
               sudah belasan tahun tidak ada perubahan regulasi yang saat ini masih mengacu
               pada Undang-Undang (UU) No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Salah satunya
               aturan dalam bekerja yang masih kaku dan berdampak pada terhambatnya
               produktivitas bagi pekerjanya itu sendiri.

               Oleh karena itu, dirinya menegaskan kembali perlunya mentransformasikan
               ekosistem yang kaku tadi menjadi lebih fleksibel atau lazim disebut flexibility labour
               market.

               "Ekosistem ketenagakerjaan kita masih sangat kaku, mencari pekerja [yang punya]
               skill susah, dan mau pemutusan hubungan kerja [PHK] susah [karena] prosedur
               lama panjang butuh 3-4 tahun. Putusan pengadilan ketenagakerjaan juga tidak
               pasti. Jam kerja kita paling sedikit, hanya 40 jam per minggu. Bandingkan dengan
               negara Asean lain yang [sampai] 48 jam per minggu. Belum lagi jam kerja tidak bisa
               fleksibel, itu menyulitkan bagi susah perempuan yang punya peran ganda," papar
               Hanif.

               Lebih lanjut Hanif menyebut apabila regulasi ketenagakerjaan di Tanah Air
               ditransformasikan menjadi lebih fleksibel, maka perlindungan sosial perlu diperkuat.
               Hal ini diperlukan, agar ke depan, para pekerja harus bisa merasakan konsep
               pembelajaran seumur hidup (long life learning and long life education).

               "Dunia sudah semakin fleksibel, industri, usaha sudah fleksibel kita tidak bisa
               menolak, negara tetap melindungi. Tetapi cara melindungi bisa berbeda, semua
               harus merubah paradigma yang ada," tegasnya.

               Adapun konsep pembelajaran seumur hidup yang dimaksud merupakan kondisi
               yang memungkinkan seseorang bisa belajar terus menerus, meningkatkan skill-nya
               terus menerus, beradaptasi skill-nya terus menerus, dan bisa bekerja secara terus
               menerus dengan dinaungi perlindungan sosial.

               "Jadi, penting untuk menyeimbangkam keduanya, agar selaras dengan tujuan yang
               sama sama kita harapkan. Di saat skill/keterampilan menjadi hal wajib dalam
               menghadapi dunia ketenagakerjaan yang semakin dinamis/fleksibel, maka semua
               orang harus bisa mengalami long life learning melalui berbagai bentuk skilling,
               upskilling, dan reskilling, " papar Hanif.






                                                      Page 121 of 136.
   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127