Page 576 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 576

Presiden Aspek, Mirah Sumirat, menyatakan bahwa kebijakan pemerintah soal UMP tak sesuai
              dengan regulasi yang sudah dibuat.
              Mirah mengklaim, aturan turunan berupa PP Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, yang
              justru bertentangan dengan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Dalam UU Cipta Kerja kenaikan upah minimum dihitung hanya berdasar variabel pertumbuhan
              ekonomi atau inflasi (bukan akumulasi).

              Namun  dalam  PP  Nomor  36  Tahun  2021  tentang  Pengupahan,  menurut  dia,  ada  tambahan
              formula baru yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah, yang tidak diatur dalam UU Cipta Kerja,
              yaitu  penyesuaian  nilai  upah  minimum  ditetapkan  dalam  rentang  nilai  batas  atas  dan  batas
              bawah.

              "Nilai batas atas upah minimum dihitung berdasarkan rata-rata konsumsi per kapita, rata-rata
              banyaknya anggota rumah tangga, dan rata-rata banyaknya anggota rumah tangga yang bekerja
              pada setiap rumah tangga," kata Mirah dalam keterangannya, Rabu (17/11/2021).

              "Nilai batas bawah upah minimum dihitung dari batas atas upah minimum dikalikan 50 persen,"
              kata dia lagi.

              Formula baru rentang nilai batas atas dan batas bawah dalam PP Nomor 36 tahun 2021 inilah
              yang menurut serikat buruh, membuat kenaikan upah minimum 2022 hasilnya justru di bawah
              inflasi ataupun pertumbuhan ekonomi.
              Padahal,  lanjut  Mirah,  berdasarkan  data  Badan  Pusat  Statistik  (BPS),  pertumbuhan  ekonomi
              tertinggi  didapat  oleh  Maluku  Utara  dengan  kenaikan  12,76  persen,  inflasi  tertinggi  Bangka
              Belitung 3,29 persen.

              Mirah mengungkapkan, berdasarkan PP Nomor 36 tahun 2021, kenaikan UMP 2022 tertinggi
              adalah di DKI Jakarta menjadi sebesar Rp 4.453.724 dari sebelumnya tahun 2021 sebesar Rp
              4.416.186,548.

              Artinya hanya naik sebesar Rp 37.538. Sedangkan kenaikan terendah UMP tahun 2022 adalah
              di Jawa Tengah menjadi sebesar Rp 1.813.011, atau hanya naik sebesar Rp 14.032 dibanding
              UMP tahun 2021 sebesar Rp 1.798.979,00.

              Menurut catatan Aspek, artinya dengan kenaikan UMP tahun 2022 tertinggi hanya sebesar Rp
              37.538 dan kenaikan terendah adalah hanya naik Rp 14.032.

              "Ini sangat memalukan di tengah kondisi rakyat yang semakin sulit dan daya beli masyarakat
              yang semakin rendah. Rakyat dipaksa untuk terus miskin," ungkap Mirah.

              Apalagi pada tahun 2020 yang lalu, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah memutuskan
              untuk tidak menaikkan upah minimum tahun 2021, dengan hanya berdasarkan Surat Edaran
              Menteri Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021
              pada Masa Pandemi Covid-19.

              Mirah juga menyebut bahwa UU Cipta Kerja Nomor 11 tahun 2020 dan PP Nomor 36 tahun 2021
              tentang Pengupahan, semakin membuktikan bahwa Pemerintahan Joko Widodo lebih berpihak
              kepada pengusaha.
              Selain itu, pihaknya juga mendukung KSPI dalam aksi mogok nasional memprotes kenaikan UMP
              tahun 2022.

              .

                                                           575
   571   572   573   574   575   576   577   578   579   580   581