Page 25 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2021
P. 25

Indah mengungkapkan, terjadi peningkatan klaim JHT, salah satunya disebabkan banyaknya
              pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menggeser filosofi dari JHT itu sendiri selama pandemi.
              Padahal, JHT seharusnya dinikmati ketika memasuki hari tua atau masa pensiun, namun banyak
              pekerja yang justru mencairkannya setelah PHK.

              Menurut  dia,  pandemi  Covid-19  yang  hampir  berlangsung  selama  dua  tahun  memberikan
              dampak yang masif pada sektor ketenagakerjaan.

              Hal inilah yang mendasari Komisi IX DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama
              Kemenaker, BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) dan perwakilan serikat pekerja/buruh guna
              membahas klaim JHT, Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) akibat
              PHK di masa pandemi.

              Menski demikian, Indah memastikan, sebel um manfaat JHT dikembalikan sesuai amanat UU
              dan filosofinya, manfaat JHT sebagaimana diatur dalam Permenaker 19 Tahun 2015 masih tetap
              berlaku.  Adapun  manfaat  program  Jaminan  Kehilangan  Pekerjaan  (JKP)  baru  akan
              diimplementasikan pada 2022 dan perlu dimonitor serta dievaluasi pelaksanaannya.

              “Sampai saat ini, Kemenaker ber pan dangan bahwa Permenaker 19/2015 terkait manfaat JHT
              masih re levan, mengingat saat ini situasi dan kondisi ketenagakerjaan masih di ha dapkan pada
              dampak pandemi Co vid-19,” ucap Indah.
              Dalam Permenaker Nomor 19 Tahun 2015, manfaat JHT bagi peserta yang berhenti bekerja
              dapat dibayar kan sekaligus setelah melewati masa tunggu satu bulan. Adanya JKP ditujukan
              untuk memberikan jaring pengaman bagi pekerja yang berhenti bekerja. Sehingga, manfaat JHT
              yang diterima pekerja di masa pensiun nanti menjadi lebih besar.

              Jika peserta ingin mengambil manfaat JHT sebelum pensiun, dimungkinkan jika telah menjadi
              peserta minimal 10 tahun dan manfaat yang diambil pun maksimal 30% dari jumlah JHT yang
              bersangkutan. "Oleh sebab itu, saat ini kami sedang mengkaji manfaat JHT untuk dikembalikan
              kepada filosofi dan sesuai amanat UU 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
              (SJSN).  Hal  ini  juga  sebagai  upaya  agar  antarsatu  program  jamsos  dengan  yang  lain  saling
              harmonis dan sinergis dalam memberikan perlindungan kepada pekerja," kata Indah.

              Modus Seolah PHK Direktur Pelayanan BP Jamsostek Roswita Nilakurnia juga memaparkan klaim
              JHT selama Desember 2020 hingga Agustus 2021 dan membenarkan terjadi kenaikan jumlah
              klaim di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

              Hingga Agustus 2021, tercatat 1,49 juta kasus JHT dengan alasan mengundurkan diri dan PHK.
              Selain itu, mayoritas nominal saldo JHT yang diklaim di bawah Rp 10 juta dan jarak umur di
              bawah 30 tahun (usia produktif).

              Seperti  dilaporkan  Antara,  Sekjen  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (K-SPSI)
              Hermanto Achmad juga menyoroti isu yang sama, yakni menggunakan modus seolah-olah PHK
              untuk dapat mengajukan klaim.

              Sedangkan Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban
              mengusulkan  mekanisme  pencairan  JHT  dikembalikan  ke  konsep  UU  Nomor  24/2011  seperti
              praktik internasional berupa simpanan masa tua (old saving). (ns)








                                                           24
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30