Page 59 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 JANUARI 2020
P. 59

membuat peraturan ini meluncur mulus, pembahasan yang tertutup justru akan

               membuat publik curiga. Apalagi Kementerian Koordinator Perekonomian malah
               memberikan kewenangan kepada Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri

               Indonesia untuk menyaring aturan yang bisa merugikan pengusaha. Ketika pemain

               ikut menjadi wasit, hasilnya adalah kesalahkaprahan luar biasa.


               Tentu tidak ada yang salah dari niat Presiden Joko Widodo merapikan peraturan dan

               membongkar regulasi yang tumpang-tindih. Namun proses perumusannya tidak
               boleh menguntungkan hanya segelintir pengusaha-yang dekat dengan penguasa.

               Jika itu yang terjadi, ekonomi yang terbangun akan timpang dan keropos karena

               dikuasai kroni dan pemburu rente. Presiden juga rawan dituding hendak membalas

               budi kepada para donatur yang membantunya selama masa kampanye.


               Persoalan kedua adalah substansi aturan sapu jagat ini. Pemerintah selalu

               menekankan bahwa omnibus law dibutuhkan untuk memperbaiki iklim investasi dan

               memudahkan rekrutmen tenaga kerja. Dua hal itu dinilai vital untuk mendongkrak
               pertumbuhan ekonomi agar melambung di atas kisaran 5 persen per tahun.



               Masalahnya, pemerintah cenderung menyalahkan aturan-aturan di sektor
               lingkungan hidup dan kehutanan sebagai penghambat investasi. Padahal regulasi itu

               justru dulu dibuat untuk melindungi ekosistem agar eksploitasi sumber daya alam

               bisa berlangsung dengan berkelanjutan. Menafikan lingkungan demi pertumbuhan
               ekonomi sama saja melawan tren global yang kini makin peduli terhadap ancaman

               krisis iklim.



               Selain itu, yang membuat investor enggan datang ke Indonesia bukan semata soal
               aturan yang tumpang-tindih, melainkan konsistensi pelaksanaan peraturan di

               lapangan. Banyak kekacauan dalam pengadaan lahan untuk tambang dan

               perkebunan, misalnya, disebabkan oleh proses perizinan yang kolusif dan berbau

               korupsi, dari tingkat daerah sampai pusat.






                                                       Page 58 of 60.
   54   55   56   57   58   59   60   61