Page 208 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 208

Aksi yang mereka lakukan itu merupakan tindakan lanjut dari aksi sebelumnya yang dilakukan
              beberapa  waktu  yang  lalu  dengan  tuntutan  yang  sama,  yakni  kenaikan  UMK,  UMP  dan
              pemberlakuan kembali Upah Sektoral serta meminta pemerintah untuk mencabut UU Cipta Kerja
              Omnibuslaw.

              Presidium Aliansi Buruh Banten Bersatu Dedi Sudrajat dalam orasinya mengatakan, apa yang
              menjadi  tuntutan  dalam  aksi  ini  yakni  meminta  agar  Gubernur  Banten  Wahidin  Halim  (WH)
              menaikkan Upah Minimum Provisi (UMP) sebesar 8,95 persen dan Upah Minimum Kota sebesar
              13,5 persen.

              "Apa yang menjadi tuntutan kami itu rasional, bukan mengada-ada. Karena kami mengacu pada
              Permenaker nomor 18 tahun 2020 tentang kebutuhan layak," ujarnya.

              Oleh karena itu, lanjutnya, apa yang disampaikan oleh Kadin pusat terkait tuntutan buruh Banten
              ini mengada-ngada itu tidak benar, karena sudah berdasarkan analisa.

              "Apa yang kami lakukan merupakan manifestasi yang nyata dalam memperjuangkan kenaikan
              gaji yang layak sesuai dengan kebutuhan masyarakat," katanya.

              Menurut Dedi, dalam setiap tahunnya kebutuhan pokok itu terus mengalami kenaikan, hal itu
              harus juga diimbangi dengan kenaikan upah buruh yang sesuai standar.

              "Kami tidak menolak terhadap investor yang masuk ke Banten, tapi jangan juga upah buruh
              kemudian ditindas," pungkasnya.
              Dedi  melanjutkan,  bagaimana  bisa  pemerintah  mengatakan  rezim  saat  ini  sesuai  kebutuhan
              masyarakat kalau dalam realitanya gaji buruh masih di bawah standar.

              "Kebijakan  yang  dikeluarkan  lewat  omnibuslaw  dalam  dua  tahun  terakhir  juga  tidak  mampu
              memperbaiki daya serap tenaga kerja," jelasnya.

              (Kontributor Banten/Luthfillah).




































                                                           207
   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213