Page 182 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 182

Sejak beberapa bulan terakhir, konsep New Normal sudah diterapkan di Indonesia. Transportasi
              yang semula dibatasi, kini mulai diperlonggar.


              Airlangga  kemudian  merinci  beberapa  indikator  perbaikan  sektor  riil  tersebut.Pertama  pada
              kelompok  usaha  seperti  properti  dan  konstruksi,  restoran,  pariwisata,  sampai  peralatan
              elektronik, dan yang lainnya.

              Kelompok ini mengalami pertumbuhan rata-rata 1 persen year-on-year (yoy) pada Juni 2020.
              Kenaikan mulai terjadi setelah anjlok sejak Maret sampai Mei 2020 mencapai minus 33 persen.


              Lalu  ada  juga  kelompok  barang  seperti  jasa  keuangan,  teknologi  informasi,  hasil  kayu  dan
              kehutanan,  dan  usaha  lainnya.  Kelompok  ini  mulai  tumbuh  tipis  2  persen  yoy  setelah
              sebelumnya anjlok sampai minus 17 persen.

              Selain di sektor riil, Airlangga menyebut sektor pasar uang dan saham juga relatif mendapatkan
              penguatan. Kurs rupiah di level Rp 14.400 per dolar Amerika Serikat.


              Menurut data Airlangga, perubahan kurs rupiah mencapai minus 3,6 persen (year-to-date/ytd)
              masih lebih baik dari Thailand, Malaysia, Inggris. Namun di bawah Cina, Vietnam, Jepang dan
              Filipina.

              Lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (UHSG) yang mendekat level 5.000, setelah mencapai
              level terendah 3.938 pada akhir Maret 2020. Tapi perubahannya mencapai minus 21,2 persen
              ytd, paling buncit dari beberapa negara seperti Vietnam, Korea, dan Malaysia.


              Terakhir yaitu Purchasing Managers Index (PMI) atau indeks manufaktur. Sebelum Covid-19,
              PMI Indonesia berada di atas 50. Lalu anjlok hingga 28 saat pandemi datang, namun telah
              bergerak naik ke level 39,1.

              Airlangga  mengakui  perbaikan  PMI  ini  masih  tertinggal  dengan  negara  lain  seperri  Cina,
              Malaysia, Vietnam, sampai Australia. Tapi menurut dia, situasi ini terjadi karena negara lain lebih
              dulu diserang Covid-19. "Kita kena belakangan," ujarnya.


              Sementara itu, ekonomi yang juga Rektor Universitas Indonesia, Ari Kuncoro, mengatakan ada
              alasan  dibalik  relaksasi  PSBB  yang  dimulai  sekitar  Juni  dan  Juli  ini.  Kebijakan  ini  berkaitan
              dengan kemampuan dunia usaha untuk bertahan.

              Lembaga  Ilmu  Pengetahuan  Indonesia  (LIPI),  Kementerian  Ketenagakerjaan,  dan  Fakultas
              Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sudah melakukan survei pada Mei 2020. Hasilnya, 41
              persen dunia usaha hanya bisa bertahan kurang dari tiga bulan.

              Artinya,  dunia usaha  hanya bisa bertahan sampai Agustus, atau tiga bulan setelah bulan Mei
              saat survei diadakan. Sementara, 24 persen hanya bisa bertahan tiga sampai enam bulan ini.
              "Ini alasan kenapa relaksasi dilakukan sekarang," kata dia..










                                                           181
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187