Page 5 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 06 JULI 2020
P. 5
Diketahui sebelumnya, isu reshuffle kabinet santer terdengar setelah Presiden Jokowi menegur
para menteri dan jajarannya saat sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakartal, 18 Juni
2020.
Kejengkelan Presiden Jokowi yang disampaikan dalam sidang kabinet tersebut terkait kinerja
para menteri yang dinilai masih biasa.selama masa krisis pan-demi saat ini. Padahal, ia meminta
ada kebijakan luar biasa untuk menangani krisis, baik itu pandemi Covid-19 maupun dampaknya
terhadap perokonomian.
"Langkah extraordinary ini betul-betul harus kita lakukan, dan saya membuka yang namanya
entah langkah politik, entah langkah pemerintahan. Akan saya buka. Langkah apa pun yang
extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita. Untuk negara," kata Jokowi, saat
itu.
Sementara itu, Direktur Lembaga Riset Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah
menyebut bahwa Menkumham, Menkes, dan Menaker, merupakan tiga menteri teratas yang
dipandang publik layak untuk diganti atau reshuffle.
Pendapat itu sesuai hasil survei kepada 1.350 responden dengan tajuk. evaluasi publik atas
penanganan pandemi Covid-19 dan implikasi sosiopolitik nasional. "Paling muncul pertama ini
bukan nama yang asing. Yasonna Laoly ada 61,4 persen paling layak dilakukan reshuffle," ujar
Dedi dalam diskusi online bertajuk 'Menanti Perombakan Kabinet', Sabtu . (4/7/2020).
Dedi menambahkan orang nomor dua setelah Yasonna yakni Menkes Terawan dengan 52,4
persen responden menilai bekas Kepala RSPAD Gatot Subroto itu layak diganti. Kemudian di
posisi ketiga ada Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah dengan 47,5 persen.
Selain itu ada pula nama Menteri Agama, Menko Kemaritiman dan Investasi, serta Menteri Sosial
yang dinilai berkinerja lemah sehingga layak untuk diganti dengan sosok lain. Menteri Dalam
Negeri Tito Karnavian mendapatkan penilaian sebagai menteri paling respon-ssif.
Salah satunya berkat kebijakan menunda Pilkada Serentak 2020 dari yang seharusnya
September 2020 menjadi Desember 2020. "Kebijakan Tito Karnavian terkait hal itu mendapat
respons positif 34,5 persen," kata Dedi.
Secara berturut mendapat penilaian responsif adalah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Wishnutama 27,0%, Menteri Luar Negeri Retno L Marsudi 24,1%, Menteri Keuangan Sri Mulyani
21,4%, dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto 19,7%.
"Munculnya Tito Karnavian sebagai menteri paling responsif sangat mungkin karena kebijakan
penundaan Pilkada. Publik menilai ini tepat di masa Pandemi, tetapi menteri yang seharusnya
paling sibuk saat pandemi justru .mendapat penilaian tidak baik, yaitu Menteri Sosial Juliari
Batubara yang hanya dinilai 11,8 persen," katanya.
Menteri Hukum dan H AM Yasonna Laoly - konsisten berada di posisi teratas paling diharapkan
reshuffle dengan penilaian 64,1%, disusul Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranfo 52,4%,
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah' 47,5%, Menteri Agama Fachrul Razi 40,8%, Menteri
Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo 36,1%, dan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar
Panjaitan 33,2%. '
Selanjutnya Menteri Sosial Juliari Batubara 30,6%, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki
28,1%,
Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali 24,7%, Menteri BUMN Erick Thohir 18,4%,
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim 13,0%.
4

