Page 58 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 AGUSTUS 2019
P. 58
"Jika iklim investasi ditingkatkan akan meningkatkan hubungan negara dan industri
semakin baik, sehingga pada akhirnya membuka lapangan pekerjaan. Jangan
sampai terdapat pengangguran yang bisa mengganggu (kestabilan) masyarakat,"
ucap Siti dalam diskusi ekonomi politik di Menteng, Kamis (1/8).
Kepala Subdirektorat Program Pengembangan Industri Minuman, Hasil Tembakau,
dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Mogadishu Djati Ertanto
mengatakan, Sigaret Kretek Tangan (SKT) merupakan industri pengolahan hasil
tembakau yang menyerap tenaga kerja yang besar.
Kondisi SKT saat ini mengalami tren penurunan produksi, tercatat pada tahun 2011
produksi SKT mencapai 96,53 miliar batang. Kemudian, produksi tahun 2018
mencapai 65,81 miliar batang.
Dalam periode 2013 hingga 2018 tersebut, 32.000 orang pekerja di sektor itu
terpaksa kehilangan pekerjaan karena pabrik-pabrik tempat mereka bekerja tutup.
"Tren penurunan ini berimbas bukan hanya tenaga kerja di industri namun juga
pada petani cengkeh," ujar Djati.
Anggota DPR RI Fraksi PKB Faisol Reza menekankan, perlunya insentif untuk
industri padat karya agar dapat berkembang.
Menurut dia, insentif pada industri padat karya diperlukan untuk melindungi
ketenagakerjaan. "Padat karya secara filosofis merupakan jaminan sosial di
masyarakat," tutur Riza.
Kementerian Perindustrian mencatat total tenaga kerja yang diserap oleh sektor
industri rokok sebanyak 5,9 juta orang yang terdiri dari 4,28 juta pekerja di sektor
manufaktur dan distribusi.
Sementara itu, 1,7 juta pekerja berada di sektor perkebunan. Selain dari aspek
tenaga kerja, industri rokok telah meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal dari
hasil perkebunan seperti tembakau dan cengkeh.
Pada tahun 2011 Kementerian Perindustrian juga mencatat ada 2.540 pelaku
industri yang memesan cukai produk tembakau. Pada 2017, pemesannya tersisa
487 saja alias berkurang lebih dari 2.000 pelaku industri.
Page 57 of 87.

