Page 176 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 13 JULI 2020
P. 176
- Pekerja Migran Indonesia, Etty Binti Toyib Anwar, dinyatakan positif Covid-19. Etty adalah
PMI yang lolos dari hukuman mati di Arab Saudi setelah Pemerintah Indonesia dengan
dukungan pelbagai pihak patungan membayar uang denda sebesar Rp 15,2 miliar.
Saat tiba di tanah air pada Senin (6/7), Etty diterima oleh pimpinan MPR yakni Wakil Ketua
MPR Jazilul Fawaid di di Bandara Soekarno Hatta. Turut serta Menteri Tenaga Kerja (Menaker)
Ida Fauziyah. Etty sendiri dinyatakan positif Covid-19 pada 9 Juli setelah diperiksa pada 7 Juli.
Tentunya hal itu menjadi pertanyaan terkait kondisi Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. Hanya
saja, kabar baik disampaikan oleh Jazilul langsung. Dia mengatakan berdasar pemeriksaan
negatif Covid-19.
"Saya sudah rapid test dan PCR swab, hasilnya negatif. Alhamdulillah sehat dan segar," ujar
Jazilul kepada wartawan, Sabtu (11/7).
Selain itu, Jazilul mengatakan sudah mendapat informasi bahwa koleganya Ida Fauziyah juga
dinyatakan negatif tertular virus Korona. Sehingga dia bersyukur rekan satu partai di PKB
dalam kondisi sehat.
"Hasil rapid negatif. Namun hasil PCR swab hari ini hasilnya saya belum dapat kabar,"
katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani
membenarkan jika Etty positif Covid-19. "Iya tanggal 9 Juli diketahui positif. Kan dia tanggal
6 Juli tiba di tanah air. Tanggal 7 Juli pemeriksaan dan tanggal 9 Juli dinyatakan positif," ujar
Benny kepada wartawan, Sabtu (11/7).
Benny menambahkan saat ini Etty sudah mendapatkan penanganan dari Rumah Sakit Darurat
Wisma Atlet untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. "Etty sudah dipindah ke Tower VII
Rumah Sakit Darurat Korona di Wisma Atlet," imbuh Benny.
Seperti diketahui, Etty Binti Toyib Anwar divonis hukuman mati atau qisas berdasarkan
Putusan Pengadilan Umum Thaif No. 75/17/8 tanggal 22/04/1424H (23/06/2003M) yang telah
disahkan Mahkamah Banding dengan Nomor 307/Kho/2/1 tanggal 17/07/1428 dan telah
disetujui Mahkamah Agung dengan Nomor 1938/4 tanggal 2/12/1429 H karena membunuh
majikannya warga negara Arab Saudi, Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi dengan cara diberi
racun.
Tiga bulan setelah Faisal Bin Said Abdullah Al Ghamdi meninggal dunia, seorang WNI bernama
Aminah (pekerja rumah tangga di rumah sang majikan) memberikan keterangan bahwa Etty
Binti Toyib Anwar telah membunuh majikan dengan cara meracun. Pembicaraan tersebut
direkam seorang keluarga majikan.
Rekaman tersebut diperdengarkan penyidik saat menginterogasi Etty Binti Toyib Anwar pada
16 Januari 2002. Usai pemeriksaan tersebut, Etty Binti Toyib mengaku telah membunuh
majikannya.
Pemerintah Indonesia dengan dukungan berbagai pihak akhirnya membebaskan Etty dari
hukuman mati dengan patungan membayar uang denda sebesar Rp 15,2 miliar. Kasus Etty
terjadi sejak 2001 dan sudah menjalani masa penahanan selama 18 tahun.
Editor : Edy Pramana Reporter : Gunawan Wibisono .
Page 175 of 345.

