Page 220 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MEI 2020
P. 220

Title          WAJIBKAN THR CAIR H-7 LEBARAN, PADAHAL MENAKER BILANG BOLEH DITUNDA
               Media Name     detik.com
               Pub. Date      11 Mei 2020
                              https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/5010808/wajibkan-thr-c air-h-7-lebaran-
               Page/URL
                              padahal-menaker-bilang-boleh-ditunda
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive









               Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah sore ini menerbitkan
               peringatan bagi para pengusaha yakni wajib membayarkan Tunjangan Hari Raya
               (THR) Keagamaan tepat waktu, dengan batas maksimal H-7 Lebaran.

               "THR Keagamaan merupakan pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh
               pengusaha kepada pekerja/buruh, paling lambat 7 hari sebelum hari raya
               keagamaan," kata Ida dalam keterangan resminya, Senin (11/5/2020).

               Dalam peringatan tertulisnya itu, Ida juga membeberkan ada denda % bagi
               pengusaha yang telat mencairkan THR. Denda ini pun tidak menghilangkan
               pengusaha untuk tetap membayar THR. Lalu, bagi pengusaha yang tak membayar
               akan diberikan sanksi.

               "Pengusaha yang terlambat membayar THR Keagamaan kepada pekerja/buruh
               dikenai denda, sedangkan pengusaha yang tidak membayar THR dapat dikenai
               sanksi administratif hingga penghentian sebagian usaha," tegas Ida.

               Padahal, Rabu (6/5) lalu, Ida juga menerbitkan surat edaran (SE) soal THR di
               tengah pandemi Corona (COVID-19). SE tersebut bernomor M/6/HI.00.01/V/2020
               tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2020 di
               Perusahaan Dalam Masa Pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

               Surat yang ditujukan kepada para gubernur ini memuat ketentuan pembayaran
               THR, termasuk soal cicilan atau penundaan THR.

               Pada poin ke satu (1) SE ini meminta gubernur untuk memastikan perusahaan agar
               membayar THR keagamaan kepada pekerja/buruh sesuai ketentuan peraturan
               perundang-undangan.

               Pada poin ke dua (2), SE menyinggung perusahaan yang tidak mampu membayar
               THR pada waktu yang ditentukan, di mana mesti dilakukan dialog antara pengusaha
               dan pekerja/buruh untuk mencapai kesepakatan.

               "Dalam hal perusahaan tidak mampu membayar THR keagamaan pada waktu yang
               ditentukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, solusi atas
               persoalan tersebut hendaknya diperoleh melalui proses dialog antara pengusaha



                                                      Page 219 of 243.
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225