Page 11 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 MEI 2020
P. 11

"Sebelumnya, seperti yang kita ketahui, ribuan pekerja migran Indonesia yang
               bekerja sebagai ABK di kapal-kapal pesiar juga menjadi korban penularan Covid-19,
               baik tertular penyakitnya maupun kehilangan pekerjaannya. Menurut catatan
               BP2MI, sudah lebih dari 6000 ABK mengalami pemutusan hubungan kerja," ujar
               Wahyu Susilo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

               Kerentanan pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan memang
               bukan hal yang baru. Dalam Global Slavery Index yang dikeluarkan Walk Free tahun
               2014-2016 juga menempatkan pekerja migran di sektor kelautan dan perikanan
               (terutama sebagai ABK di kapal pencari ikan) sebagai praktik perbudakan modern
               yang terburuk.

               Dalam pemeringkatan ini, terhitung ada ratusan ribu ABK Indonesia di kapal-kapal
               penangkap ikan berada dalam perangkap perbudakan modern. Jika kondisi tersebut
               masih berlangsung sampai sekarang, maka situasi memang belum berubah dan ini
               tentu sangat menyedihkan.

               Pemerintah Indonesia pernah terlibat dalam upaya memerangi perbudakan di sektor
               kelautan, terutama pada zaman Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudiastuti.
               Namun inisiatif tersebut lebih banyak menyangkut soal praktik ini di perairan
               Indonesia, dipicu kasus perbudakan di kapal ikan di perairan Benjina, Kepulauan
               Maluku.

               Namun inisiatif ini tidak meluas pada nasib pekerja migran Indonesia sebagai ABK di
               kapal-kapal pencari ikan berbendera asing yang beroperasi melintas negara. Inisiatif
               ini pun tidak mendapat dukungan signifikan dari Kementerian Ketenagakerjaan,
               Kementerian Perhubungan atau BNP2TKI (sekarang menjadi BP2MI).

               Dalam perkara ini Kementerian Luar Negeri juga mengalami kesulitan dalam
               penanganan kasus terkait jurisdiksi perkara. Bisa dibayangkan jika kasus terjadi di
               kapal pencari ikan berbendera A, pemiliknya adalah warga negara B, dan kasusnya
               terjadi di lautan dalam otoritas negara C atau di laut bebas. Namun apa pun
               situasinya seharusnya negara hadir dalam memberikan perlindungan terhadap anak
               buah kapal Indonesia.

               Kerentanan para pekerja migran Indonesia di sektor kelautan dan perikanan juga
               dipicu oleh ketiadaan instrumen perlindungan yang memadai sebagai payung
               perlindungan bagi mereka. Meskipun UU No. 18/2017 tentang Pelindungan Pekerja
               Migran Indonesia mengamanatkan adanya aturan khusus mengenai Pelindungan
               Pekerja Migran Di sektor Kelautan dan Perikanan, namun hingga saat ini aturan
               turunan tersebut belum terbit.

               Bahkan terlihat ada kecenderungan berebut kewenangan antara Kementerian
               Perhubungan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Badan pelindungan Pekerja
               Migran Indonesia. Politik luar negeri dan diplomasi juga belum maksimal dalam
               memperjuangkan penegakan hak asasi pekerja migran di sektor kelautan dan



                                                       Page 10 of 276.
   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16