Page 101 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 19 desember 2019
P. 101
Kami tekankan pelatihan kompetensi. Sekarang menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah. Materi pelatihan vokasi itu ada penguatan ideologi
kebangsaan," tegas Ida.
Politikus PKB itu mewanti-wanti para calon PMI harus memiliki keterampilan terlebih
dahulu, sebelum berangkat bekerja ke luar negeri. "Kami menyesalkan ada calon
PMI yang nekat berangkat tanpa dibekali skill dan dokumen yang legal. Masih
banyak pekerja kita yang menggunakan visa kunjungan, tapi tujuannya bekerja,"
sesal Ida.
Salah satu solusi dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah, dengan
menerapkan layanan terpadu satu atap. Layanan tersebut sudah ada 42 titik di
seluruh Indonesia. "Kami punya layanan terpadu satu atap ada 42 titk. Kalau ingin
bekerja di luar negeri, bisa mempermudah mengakses lowongan kerja di luar
negeri. Jangan percaya calo," ujar Ida.
Salah satu purna PMI asal Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten
Malang, Dwi Lestari (40), mendapatkan inspirasi membuka usaha saat bekerja di
Hongkong. Wanita asli Donomulyo itu bekerja di Hongkong sejak 1998. Namun,
memutuskan pulang ke tanah air pada 2004.
"Saya terinspirasi dari para pekerja Filipina. Kalau hari libur buat kerajinan bunga.
Bahannya kain stocking," beber mantan pembantu rumah tangga itu.
Setelah balik ke Indonesia, Dwi memutuskan membuka usaha kerajinan bunga dari
bahan kain stocking. Keputusannya itu ternyata berbuah manis. Hingga kini,
usahanya tetap eksis dan dapat meraup omset hingga Rp 5 juta per bulan.
"Terus saya tanya, bahannya ternyata dari China. Bahan ini saya impor dari China
langsung. Harga kerajinan kami antara Rp 50 ribu sampai 600 ribu. Omsetnya bisa
Rp 4 sampai 5 juta. Rata rata ibu-ibu dan kantor pemerintahan yang pesan,"
ungkap Dwi.
Page 100 of 118.

