Page 212 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 212

Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2022 yang kini menjadi perhatian
              berbagai pihak.


              SOAL KENAIKAN UMP, PESAN KADIN KE SERIKAT PEKERJA: JANGAN MENUNTUT
              BERLEBIHAN

              SuaraSurakarta.id - Upah buruh di Jawa Tengah bisa dikatakan jauh dari kata-kata sejahtera.
              Bahkan UMP di Jateng masuk deretan terendah se-Indonesia. Tentu saja momen akhir tahun
              dimanfaatkan para buruh untuk meminta pemerintah menaikan standar upah mereka.

              Menyadur dari Solopos.com, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia angkat bicara terkait
              rencana penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Regional (UMR) tahun
              2022 yang kini menjadi perhatian berbagai pihak.
              Wakil  Ketua  Umum  Bidang  Pengembangan  Otonomi  Daerah  Kadin  Sarman  Simanjorang
              mengatakan soal tuntutan kenaikan UMP tahun depan turut menjadi perhatian pelaku usaha di
              tengah pemulihan ekonomi nasional.

              Namun demikian, ia berharap para serikat pekerja tidak menuntut secara berlebihan atau di luar
              kemampuan dunia usaha.

              "Serikat  pekerja  atau  buruh  jangan  sampai  menuntut  berlebihan  di  luar  kemampuan  dunia
              usaha. Dalam kondisi seperti ini saling pengertian sangat dibutuhkan, jangan sampai pelaku
              usaha tertekan akibat permintaan kenaikan UMP yang berlebihan," ujarnya, Kamis (28/10/2021).

              Sebagai informasi, sejumlah serikat pekerja di berbagai daerah ada yang mendesak agar UMR
              tahun depan naik signifikan atau 10% dibanding tahun lalu.

              Hal itu karena berdasarkan survei kebutuhan hidup layak (KHL) selama pandemi meningkat, baik
              untuk pembelian masker, vitamin, maupun handsanitizer.
              Lebih lanjut, Sarman juga mengingatkan bahwa formulasi penetapan UMP/UMR sudah diatur
              dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan sebagai turunan
              Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Oleh  karena  itu,  selama  tuntutan  kenaikan  UMP/UMR  didasarkan  dengan  aturan  tersebut
              tentunya para pengusaha akan bersedia untuk mengupayakannya.

              "Adanya isu yang menyatakan UMP akan ada kenaikan dari tahun lalu sejauh rumusnya dan
              dasarnya jelas sesuai PP Nomor 36 tahun 2021, pengusaha akan dapat menyesuaikan sesuai
              kemampuan," ungkapnya.

              Diberitakan sebelumnya, serikat pekerja atau buruh di Jawa Tengah berharap pemerintah tidak
              menggunakan aturan baku dalam penetapan UMP/UMR 2022.

              "Kalau mengacu pada aturan baku itu, kenaikan UMP akan ditentukan berdasarkan pertumbuhan
              ekonomi dan inflasi. Kalau seperti itu, jelas kita tidak akan mengalami kenaikan yang signifikan.
              Apalagi, pertumbuhan ekonomi kan mengalami kontraksi. Kalau pun naik, prediksi kami sekitar
              1-2 persen. Itu enggak sesuai bagi buruh memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," terang Ketua
              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jateng, Aulia Hakim, Rabu (27/10/2021).

              Oleh karena itu, dalam penetapan upah tahun depan tersebut mereka berharap survei KHL yang
              dijadikan  acuan.  Alasannya,  karena  selama  pandemi  berlangsung  kebutuhan  para  buruh
              meningkat, seperti harus beli masker, vitamin, handsanitizer dan lainnya.

                                                           211
   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217