Page 258 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 258

"Kami tuntutannya itu ada kenaikan 7-10 persen UMP tahun 2022 mendatang. Kami juga tetap
              menginginkan diberlakukannya UMK atau upah minimum sektoral itu harus tetap diberlakukan,"
              kata Ketua DPD SPN NTB, Lalu Wira Sakti.

              Menurut Wira, kenaikan UMP 2022 tersebut dirasa tidak terlalu besar dari besaran UMP tahun
              2021 dan 2020 sebesar Rp 2.183.833, karena dari 7 persen hanya naik sekitar Rp 100 ribu saja.
              Artinya  tidak  membebankan  para  pengusaha,  karena  yang  dituntut  pekerja  tidak  banyak.
              Tuntutan kenaikan UMP NTB tahun 2022 diangka 7-10 persen itu kalau mengacu inflasi nasional
              dan kenaikan ini tidak sampai berjuta-ju- ta, tapi hanya ratusan ribu. Dikatakan, meski sudah
              ditetap- kan aturan UMP naik masih banyak perusahaan justru tidak mengikuti aturan tersebut.
              Bahkan ada yang tidak membayarkan sesuai dengan aturan dibuat. Walaupun sudah ditetapkan
              UMP naik, tapi belum tentu semua pengusaha mau melaksanakan ketentuan UMP.

              "Setidaknya kita punya payung hukum kalau memang nanti tidak dijalankan oleh perusahaan
              nakal,"  tegasnya.  Selain  itu,  pihaknya  juga  meminta  untuk  membatalkan  UU  Ciptakerja  dan
              kaitannya dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tanpa harus menggunakan UU Ciptakerja.
              Saat ini yang terpenting serikat pekerja sudah menyuarakan apa tuntutan dari para pekerja.
              Terpisah, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Provinsi NTB Yustinus
              Habur men- gatakan, untuk pembahasan UMP 2022 pihaknya belum menerima undangan rapat
              dari  Dewan  Pengupahan  Provinsi.  Sejauh  ini  ma-  sih  menunggu  informasi  bagaimana
              pembahasannya nanti.
              "Sampai saat ini belum ada undangan rapat Dewan Pengupahan Provinsi dari Dinas Tenaga kerja
              Provinsi  NTB.  Sementara  formula  perhitungannya  data-datanya  juga  belum  jelas,"  katanya.
              (dev).










































                                                           257
   253   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263