Page 101 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 101

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, kebijakan UM ini, merupakan salah satu
              program strategis nasional yang ditujukan sebagai salah satu instrumen pengentasan kemiskinan
              serta serta mendorong kemajuan ekonomi Indonesia melalui pengupahan yang adil dan berdaya
              saing.

              “UM adalah upah terendah yang ditetapkan oleh pemerintah yang berlaku bagi pekerja/buruh
              dengan masa kerja kurang dari 1 tahun pada perusahaan yang bersangkutan,” kata Ida Fauziyah
              dalam temu pers di kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (16/11/2021).

              Ida Fauziyah menjelaskan UM berdasarkan PP No. 36 Tahun 2021 hanya berdasarkan wilayah,
              yaitu Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Tidak ada lagi
              penetapan UM berdasarkan sektor, namun UMS yang telah ditetapkan sebelum 2 November
              2020 tetap berlaku hingga UMS tersebut berakhir atau UMP/UMK di wilayah tersebut telah lebih
              tinggi.

              “Dengan demikian UMS tetap berlaku dan harus dilaksanakan oleh pengusaha,” ujar Ida Fauziyah
              didampingi Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker, Indah Anggoro Putri.

              Baca  Juga:  Kemnaker:  Indeks  Pembangunan  Ketenagakerjaan  Tunjukan  Trend  Positif
              https://www.info31.id/4531-2/ Sesuai SE Mendagri 561/6393/SJ perihal penetapan UM tahun
              2022 kepada seluruh gubernur, Ida Fauziyah meminta Gubernur harus menetapkan UMP paling
              lambat  tanggal  21  November  2021.  Namun  mengingat  21  November  merupakan  hari  libur
              nasional  maka  penetapan  UMP  harus  dilakukan  paling  lambat  1  hari  sebelumnya,  yaitu  20
              November 2021.

              “Dalam menetapkan UMK, maka harus dilakukan Gubernur paling lambat tanggal 30 November
              2021 dan dilakukan setelah penetapan UMP,” katanya.

              Ida Fauziyah menegaskan semangat dari formula UM berdasarkan PP Nomor 36 Tahun 2021
              adalah untuk mengurangi kesenjangan UM, sehingga terwujud keadilan antar wilayah. Ia menilai
              keadilan antar wilayah tersebut dicapai melalui pendekatan rata-rata konsumsi rumah tangga di
              masing-masing wilayah.

              Ditambahkan  Menaker,  mencermati  UM  yang  ada  saat  ini  tidak  memili  korelasi  sama  sekali
              dengan  angka  rata-rata  konsumsi,  median  upah  atau  bahkan  tingkat  penganggurannya.
              Contohnya, ada suatu kabupaten dan kota saling bersebelahan namun kabupaten memiliki nilai
              UM hampir 2 kali dari kota.

              “Ada pula, kabupaten dengan angka pengangguran sangat tinggi dan mayoritas penduduknya
              masih bertani, namun karena kabupaten tersebut memiliki wilayah industri sehingga dipaksa
              memiliki nilai UMK yang sangat tinggi,” katanya.





















                                                           100
   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106