Page 142 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 SEPTEMBER 2021
P. 142

JUMLAH BESAR, TAPI PEKERJA INFORMAL BELUM BANYAK TERLINDUNGI
              JAMINAN SOSIAL
              JAKARTA, : Menteri Ketenagakerjaan,A Ida FauziyahA terus mendorong para pekerja informal
              (pekerja bukan penerima upah) untuk mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan
              agar mendapatkan jaminan perlindungan sosial.

              Sebab,  baik  pekerja  formal  maupun  informal,  keduanya  memiliki  risiko  kerja.  Apalagi  dalam
              kondisi pandemi Covid-19 ini membuat siapa pun seharusnya merasa perlu untuk mendapatkan
              jaminan sosial.

              "Bapak, Ibu, cobalah pikir keluarga, pikir istri/suami, pikirkan anak juga kalau mereka butuh
              pendidikan. Istri atau suami butuh untuk tetap survive karena risiko selalu menghampiri kita apa
              pun pekerjaannya mulai dari kecelakaan kerja sampai meninggal. Ayok aware. Risiko kerja itu
              bisa  terjadi  kapan  saja  dan  di  mana  saja,"  tegasnya  pada  acara  Sosialisasi  Program  BPJS
              Ketenagakerjaan bagi Pekerja Bukan Penerima Upah di Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
              Apalagi, imbuh Menteri Ida, jumlah pekerja informal jauh lebih banyak dibanding pekerja formal
              (pekerja penerima upah). Namun, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan masih didominasi oleh
              pekerja formal.

              "Di masa pandemi ini, pekerja informal naik cukup signifikan. Jadi data Februari 2021, pekerja
              informal  kita  jumlahnya  itu  59  persen,  hampir  60  persen  itu  pekerja  bukan  penerima  upah,
              sementara yang penerima upah 40-an persen," ucapnya.

              Dia menerangkan, dengan membayar iuran program mulai Rp 16.800 per bulan, pekerja akan
              mendapatkan  perlindungan  Jaminan  Kecelakaan  Kerja  (JKK)  yang  manfaatnya  berupa
              pengobatan tanpa batas biaya, serta Jaminan Kematian (JKm) yang manfaatnya akan diterima
              ahli waris jika peserta meninggal dunia berupa santunan uang tunai.

              "Jadi kalau ada yang meninggal maka pendidikan anaknya ditanggung sampai perguruan tinggi.
              Kemudian yang di-cover tidak hanya 1 anak, tapi 2 anak. Itu salah satu cara kita melahirkan
              generasi-generasi baru yang masa depannya sudah kita pikirkan," ucapnya.

              Dalam kesempatan itu Menteri Ida Fauziyah menyambangi para pekerja Warung Nasi Ibu Imas
              yang menjadi penerima Bantuan Subsidi Gaji/Upah (BSU) tahun 2021.

              "Alhamdulillah saya hari ini sarapan di Warung Ibu Imas. Nah, para pegawainya warung Ibu
              Imas ini sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan dan berhak mendapatkan BSU," ucap
              Menaker Ida.

              Menaker  Ida  mengatakan,  para  pekerja  Warung  Nasi  Ibu  Imas  mendapatkan  program  BSU
              selama dua tahun berturutut-turut, yakni tahun 2020 dan 2021.
              Menurutnya, Warung Nasi Bu Imas adalah salah satu kelompok usaha yang terdampak pandemi
              Covid-19. Warung Nasi yang memiliki ratusan pagawai ini sempat menutup dan merumahkan
              sementara para pekerjanya.

              "Dua bulan lebih ketika PPKM diberlakukan, warung ini tutup, tentu para pekerjanya berkurang
              pendapatannya.  Alhamdulillah  Pemerintah  datang  memberikan  bantuan  subsidi  kepada  para
              pekerja," ucapnya.

              Dia  berharap,  bantuan  pemerintah  berupa  subsidi  upah  ini  memberikan  manfaat  untuk
              kelangsungan hidup dan dapat meningkatkan konsumsi para pekerja.

              kbc 10.

                                                           141
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147