Page 444 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 SEPTEMBER 2021
P. 444
kegiatan Rekonsiliasi Data Penempatan Tenaga Kerja BKK/LPK/Disnaker
Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2021 di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/9/2021).
KEMNAKER AJAK PEMERINTAH DAERAH UNTUK ATASI PENGANGGURAN SECARA
KONSISTEN
Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan terus berupaya mengurangi angka pengangguran
dengan melakukan perbaikan layanan informasi ketenagakerjaan dalam memajukan usaha mikro
kecil menengah (UMKM) serta meningkatkan infrastruktur yang berbasis komunitas.
Saat ini, pengangguran merupakan permasalahan serius yang memerlukan penanganan melalui
berbagai kebijakan, baik Pemerintah Pusat dan Daerah, serta dukungan dari pihak swasta.
"Upaya mengatasi pengangguran ini menjadi hal yang penting di tengah terpuruknya kondisi
perekonomian akibat pandemi COVID-19, serta mencegah munculnya masalah sosial
masyarakat," kata Sekretaris Jenderal Kemnaker, Anwar Sanusi, saat memberikan arahan pada
kegiatan Rekonsiliasi Data Penempatan Tenaga Kerja BKK/LPK/Disnaker
Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2021 di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (2/9/2021).
Sekjen Anwar Sanusi menjelaskan, revolusi industri 4.0 saat ini memaksa terjadinya perubahan
dalam perkembangan teknologi digital pada semua sektor, termasuk sektor ketenagakerjaan.
Perubahan ini harus disikapi dengan kebijakan tepat dan cepat dalam penyerapan tenaga kerja.
"Bisa dikatakan bahwa sektor-sektor tersebut mempunyai kontribusi besar terhadap
pertumbuhan secara nasional maupun domestik," kata Sekjen Anwar Sanusi.
Survei dari Sakernas BPS per Februari 2021, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebanyak
139,81 juta jiwa (68,08%) dengan penduduk yang bekerja sebanyak 131,06 juta orang
(93,74%), sementara jumlah pengangguran terbuka sebanyak 8,75 juta jiwa (6,26%).
Jumlah angkatan kerja yang terdampak COVID-19 pada sektor ketenagakerjaan sekitar 19,10
juta orang, di mana sebanyak 1,62 juta orang merupakan pengangguran yang Bukan Angkatan
Kerja (BAK) karena COVID-19; sebanyak 0,65 juta orang tidak bekerja karena COVID-19
sebanyak 1,11 juta orang; dan penduduk yang mengalami pengurangan jam kerja karena
COVID-19 sebanyak 15,72 juta orang.
Dampak dari pandemi COVID-19 ini diprediksi ada sekitar 10 juta pengusaha mandiri akan
berhenti bekerja dan 10 juta lainnya pendapatan menurun lebih dari 40%.
Selain itu adanya pertambahan jumlah angka pengangguran pada angkatan kerja usia muda
disebabkan berbagai faktor seperti spesifikasi pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan
mereka; kurangnya pengetahuan dan keahlian terhadap lowongan pekerjaan.
"Ini merupakan tantangan yang berat bagi ketenagakerjaan di Indonesia meskipun
meningkatnya jumlah pengangguran ini juga dialami oleh hampir semua negara di dunia," ucap
Anwar Sanusi.
443

